STOP PRESS: tepat hari ini (Jum’at 2/5/2008), saya “PINDAH RUMAH”.

Tempatnya tak jauh, masih dibawah bendera WP.

Dan setelah lama absen dari dunia Blogger, saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya bagi yang bertandang dan memberikan komentar di situs ini.

Tak lupa, mohon maaf dan maklum atas saran serta kritik yang tidak sempat ditanggapi.

Bagi yang sempat me “link” situs ini , ramai berdiskusi, maupun yang baru “tersangkut” singgah, yu…kunjungi rumah baru saya di www.syamsu84.wordpress.com

 

Oemar Bakri Harus Dihapuskan

Posted: November 26, 07 in Pendidikan

Oleh : Syamsuwal Qomar

 

Tak seperti hari ulang tahun yang dirayakan meriah, hari guru (seperti biasa) kemarin diperingati dan diekspos dengan berbagai keprihatinan. Media cetak maupun tayangan televisi ditanah air berlomba menampilkan sosok guru-guru idealis nan melankolis, mereka yang tak mampu secara materi namun rela mengajar demi anak-anak bangsa.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketOemar Bakri kiasannya, pak guru bersepeda ontel dengan kopiah hitam yang miring. Orang tua yang menuntun sepedanya pulang disaat murid-muridnya memakai “kereta” berkilap dan terlindung dari hujan. Illustrasi yang sering saya temukan di beberapa media cetak lokal.

Entah sampai kapan figur ini lekat terhadap profesi guru. Mereka yang harusnya menjadi pelita bangsa, pemberi inspirasi dan pembawa budaya melalui kehlian yang disandang malah terpenjara dalam peran demikian. Kesalahan mereka yang kerap menjadi sorotan, segala harapan besar yang disandangkan, juga imbalan yang tidak pernah cukup untuk hidup layak.

Read the rest of this entry »

Mari Benahi Pendidikan Bersama

Posted: November 20, 07 in Pendidikan

Oleh : Syamsuwal Qomar

Sungguh sulit dipercaya, menginjak usia  kemerdekaan yang ke 62, ternyata masih lumayan banyak masyarakat kita yang  terkategori “rabun baca”. Bukan dalam kiasan malas atau tak punya keinginan untuk membaca, tapi benar-benar tak mampu mengenali aksara.

Sampai perkembangan terakhir tercatat 14,6 juta jiwa yang buta aksara di Indonesia. Mengambil contoh di ibu kota, tahun 2006 terakhir tingkat buta huruf mencapai 11.000 orang. Jumlah yang dipercaya akan semakin bertambah dengan angka putus sekolah yang mencapai 23.000 orang. Entah bagaimana ya dengan nasib daerah lainnya?

Read the rest of this entry »

Pendidik juga Pahlawan?

Posted: November 13, 07 in Pendidikan

3 hari barusan kita memperingati hari Pahlawan, sebagai lambang penghormatan pada para pejuang yang bertempur melawan penjajah, sampai didirikannya Tugu Pahlawan, “tanda jasa” bagi mereka yang berjuang sampai titik darah penghabisan.

Tiap-tiap individu pasti punya perbedaan dalam memaknai kata pahlawan. Yang ada di pikiran saya, pahlawan adalah mereka yang berani berjuang menantang kelaliman demi kelangsungan bangsanya. Seseorang yang mau ikut berkorban saat orang-orang disekitarnya menderita.

Siapa saja mungkin bisa menjadi pahlawan. Seorang jaksa yang adil, orang kaya yang dermawan, atau sekedar seorang kepala keluarga yang menjadi tumpuan hidup anak-anak dan istrinya. Tak peduli seberapa kecil penghargaan yang diperoleh, mereka tetap memperjuangkan hal yang diyakini sebagai kebenaran.

Dalam dunia pendidikan contohnya, puluhan tahun sebelum merdeka, bangsa kita dibatasi haknya untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Namun karena keberadaan orang-orang yang berani mengorbankan nyawa dan menantang penjajah demi generasi bangsa, kesempatan sempit tersebut tetap tidak ter sia-siakan.

Hanya dalam belasan tahun bangsa Indonesia mampu beregenerasi melalui sekolah-sekolah yang didirikan para pendidik bangsa. Tak pelak, keberadaan mereka pula yang menjadi pondasi dasar pendidikan, sehingga bermunculan golongan intelektual yang membuat negara kita mampu berdiri sejajar dengan negara-negara lain di dunia.

Read the rest of this entry »

BUBARKAN SEKOLAH ?

Posted: November 4, 07 in Pendidikan

 

Oleh : Syamsuwal Qomar

Minggu-minggu ini Banjarmasin Post, salah satu koran lokal di tempat saya ramai memberitakan tentang pendidikan. Hari kamis kemarin muncul judul Guru SDN xxx Tolak UN, setelah beberapa hari sebelumnya juga dipajang judul-judul seperti Belajar di Samping Kuburan, Atap-atap Sekolah yang Ambrol dan Ruangan Kelas Amblas.

Gampang di tebak, sekolah-sekolah yang bernasib “naas” demikian pastilah sekolah pinggiran. Sekolah-sekolah yang terluput dari perhatian pemerintah karena jarangnya akses ke daerah terpencil, sehingga minimnya fasilitas sudah menjadi hal yang lumrah.

Tak jarang dijumpai, karena merasa diperlakukan tak adil, sekolah-sekolah yang terletak di pelosok ini akhirnya angkat bicara. Di saat sekolah-sekolah di kota memiliki fasilitas lengkap dan mampu meluluskan sebagian besar siswanya saat UN, mereka justru “harus” menolak UN karena banyak siswa mereka yang tidak bisa baca tulis. “Bagaimana bisa lulus UN?”

Sungguh hal yang ironis memang. Wajar bila sekolah-sekolah tersebut memilih WO duluan. Tapi yang masih patut menjadi pertanyaan kemudian, masa iya peran fasilitas sebesar itu dalam dunia pendidikan, sehingga dapat menjadi alasan ketidakmampuan siswa untuk belajar dan menyerap berbagai ilmu pengetahuan?

Terpicu dari hal ini, diam-diam muncul dialog terbuka antar mahasiswa FKIP di kampus saya. Para “cagur” yang “resah” dengan masa depan mengutarakan pendapat mereka dengan lugas dan terbuka, ditemui komentar biasa sampai saran unik yang membuat kening berkerut. Pendapat yang paling ekstrim pun akhirnya muncul belakangan, BUBARKAN SEKOLAH?!

Read the rest of this entry »

Menulis seribu tahun lagi ?

Posted: October 30, 07 in Menulis

 

Oleh : Syamsuwal Qomar

Back to Business. This is the time when I should move and go home with the real life. Pick the time preciously, go to the campus and library, gather the literatures, make a plan to accomplish the thesis.

ASAP…Hold on, I almost forgot to post my article…

Ngomong-ngomong perihal menulis, mungkin yang paling berjasa dalam hal ini adalah pak EWA. Tak ada capeknya beliau memotivasi untuk menulis setiap hari dan minggunya.

Padahal waktu awal ketemu, saya hanya penulis “ecek-ecekan” yang kebetulan beruntung karya nya dimuat di koran. Ternyata ada juga yang berminat “membaca” tulisan saya. H3w.

Bukunya “Menulis Sangat Mudah” banyak memberi ide-ide untuk menulis. Tapi tetap saja saya tergolong angin-anginan dalam hal ini (dasar pemalas :-)). Pikiran saya, keterampilan menulis cukup sebatas hobi dan mood. Syukur-syukur bila nantinya bisa mendarah daging dan jadi kebiasaan.

Tapi entah kenapa, persepsi saya tentang menulis sekarang mulai berubah. Mungkin seperti yang dibilang banyak motivator, saya mulai bisa memandang kalau menulis dapat menjadi ajang curhat, pelepasan emosi secara lebih dewasa dan aktualisasi diri.

Berbeda dengan pertama kali menulis. Karena belum terbiasa menuangkan pikiran lewat tulisan, tata bahasa menjadi kacau, penempatan tanda baca yang kurang tepat, pemilihan bahasa yang begitu kasar sehingga menggerus makna jadi lebih “kejam” dan arogan.

Walhasil menulis malah membabi buta, mencari kesalahan orang lain, pamer kepintaran atau sekedar menyalurkan emosi tanpa memikirkan apa akibat dan dampak dari hasil tulisan.

Belakangan bersentuhan dengan dunia maya, saya menilai kalau menulis bisa mendewasakan diri. Setelah banyak belajar dan berkunjung ke web2 lain, seperti web yang dimiliki Hana 79, web yang banyak memotivasi dan mengajari segala hal dalam hidup. Memberi banyak pencerahan dan men “defrag” pola pikir yang berkaitan erat dengan menulis.

Memang sebuah tulisan, bila dilihat dari sistematika dan pemilihan katanya juga dapat menjadi cermin dari pribadi penulis. Jadi –entah disadari atau tidak, dapat mengungkapkan identitas dan sifat penulis itu sendiri.

Web Jalur lurus yang dikelola Sawali Tuhusetya contohnya. Saya menyebutnya guru elit dari Kendal, (h3W) banyak didapat ide-ide luar biasa dari web ini dan perkembangan dunia pendidikan terbaru. Dengan motto “Budayakan Nge-Blog di antara kalangan guru” sangat bagus untuk me refresh dunia pendidikan yang di rasa masih carut marut.

Berbicara tentang hal-hal luar biasa, juga ada blog Spektrum Pemikiranku yang dikomandoi Yari NK. Isi blognya sometimes fill with English, benar-benar scientific. Penuh dengan hal-hal baru dan segar.

Santri Butet Kurtubi yang tulisannya banyak mengupas kisah hidup manusia. Mengajarkan nilai-nilai dan arti terdalam dari kehidupan. Begitu mempesona dan sensitif dengan kehidupan sehari-hari yang kita jalani dipandang dari segi religi.

Rekan Fira 71 yang kadang juga memberi inspirasi untuk membuat puisi dan cerpen. (Terus berkarya mbak), blog Al-Maschatie yang begitu kreatif, Al-Jufri Mathematicse dengan mengusung ide-ide khas ilmu hitung-menghitung, Mbak Anie di Batam yang menceritakan kesehariannya dan Dhona yang baru-baru berkunjung ke sini.

Serta blog-blog lain yang pernah berkunjung dan ikut mendewasakan saya, T4n Andalas, Pr4s, Lintang, X-Woman dan rekan Cangcorong di Banjarmasin, juga yang lainnya lagi yang tak bisa saya sebutkan satu-satu.

Blog-blog ini ikut, bahkan banyak berperan dalam membangun kepercayaan diri. Memberikan contoh penuangan pikiran yang kreatif serta jauh dari kesan menggurui dan sombong. Juga banyak memberi kontribusi dan warna tersendiri dalam gaya penulisan.

Saya punya andai-andai, Berlebihan memang, tapi bila umur manusia bisa mencapai seribu tahun. Mungkinkah rekan-rekan di dunia maya mampu terus menulis selama itu, kenapa tidak ? H3w. saya mungkin saja menjawabnya. Entah bagaimana dengan pendapat mereka ?

Kisah Silaturahmi Buku dan Komik

Posted: October 15, 07 in Menulis

Oleh :
Syamsuwal Qomar

 

Lebaran biasanya identik dengan mudik, silaturahmi dan ketupat. Namun berbeda dengan kebanyakan orang, saya justru tidak pergi ke mana-mana saat lebaran. Saya mudik di rumah saja 🙂

Bukannya tidak punya keluarga di luar kota, akibat beberapa kegagalan teknis, saya mesti tinggal di rumah dan gagal melancong. Baru bisa bersilaturahmi dengan keluarga jauh 2-3 hari sesudah lebaran. Tepatnya hari ini, saat anda membaca postingan ini mungkin saya dalam keadaan mudik 🙂

Read the rest of this entry »