Hidup Guru Muda ?!

 

Oleh : Syamsuwal Qomar

Sebagai mahasiswa yang masih kuliah, saya sering terlibat pembicaraan topik yang hangat-hangat di kampus, mulai dari isu SBY sempat beristri, kisah saling cekal produk Cina-Indonesia, hingga tentang  SPMB yang diumumkan 4 Juli kemarin.  

Sungguh mengagetkan, begitu pembicaraan merembet ke Unlam (Universitas Lambung Mangkurat di Banjarmasin), banyak yang menilai kalau peminatnya makin tahun makin menurun, alasannya ? Kurang menjamin masa depan.  

Entah benar atau salah, saya tidak tahu data aslinya. Tapi setelah ditelusuri ada juga benarnya. Zaman sekarang orang lebih perlu pekerjaan daripada tempat kuliah, kalau tempat kuliah tidak punya prospek, buat apa kuliah. Jadi sarjana tak ada gunanya kalau cuma jadi pengangguran, katanya.  

Di Unlam saya punya kesimpulan, ada 2 fakultas yang punya prospek cerah dan lebih menonjol dibanding lainnya. Yang pertama fakultas kedokteran, toh meskipun mahasiswanya mengeluh harus merogoh kocek lebih dalam. Profesi dokter lebih menjamin masa depan selain titel seumur hidup.  

Yang kedua adalah FKIP, fakultasnya pencetak calon guru. Harus diakui, kebutuhan bangsa akan guru yang berkualitas dan berkompeten masih tinggi. Namun berbeda dengan dokter, cerahnya masa depan guru sepertinya harus menunggu bertahun-tahun lagi.  

Saya tidak ingin memunculkan wacana akan sedihnya nasib guru dan suramnya masa depan mereka. Sekarang profesi guru malah terasa lebih “empuk” dibanding dulu, peningkatan gaji guru dan sertifikasi demi peningkatan kualitas sepertinya tinggal menunggu waktu untuk dituai buahnya. 

Sekarang perhatian justru saya alihkan kepada guru-guru muda, orang-orang yang masih “fresh from oven”. Mereka yang baru keluar dari didikan calon pengajar dan buru-buru  mempraktekkan ilmunya di sekolah. Ingin membuktikan kalau gelar Spd di belakang nama itu bukan hanya tetenger semata, tapi ada isinya. 

Tanpa memandang remeh yang lebih senior, saya menilai kalau keberadaan guru-guru muda sangat bagus. Mereka punya semangat berlebih, belum dimakan usia dan kebosanan. Kecenderungan memperhatikan media dalam pengajaran dan punya tingkat konsentrasi yang lebih tinggi, meskipun nantinya juga akan merasa jemu. 

Keinginan saya tidak muluk, manfaatkanlah guru-guru muda ini selagi mereka punya idealisme tinggi, mengajar dan memintarkan anak bangsa. Jangan sampai semangat  yang tadinya menggebu jadi surut karena kurang dukungan, baik dari sisi sekolah maupun pemerintah. 

Sayang sepertinya ini belum optimal terjadi, guru muda (katanya) lebih berkesan dipandang sebagai junior. Gaji kecil dan perlakuan yang sedikit restricted, meskipun ini juga tergantung kemampuan bersosialisasi. Saya tidak ingin menjadi orang yang men stereotype, cuma menuliskan kesan dan keluh kesah teman-teman yang sudah menjadi guru.  

Apa yang dikeluhkan mereka berbeda dengan yang saya alami. Sewaktu ikut program PKL ke Kotabaru, mengajar bahasa Inggris untuk anak SD dan SMP. Sambutannya sungguh luar biasa. Guru-guru mengakui kalau murid lebih antusias memperhatikan kami, wajar, barang baru kan selalu dapat sorotan lebih ?  

Tentu saja pengalaman ini cuma “cetek”, dibanding kawan-kawan yang sudah jadi tenaga honorer dan mengajar dengan “riang gembira”. Tapi makna yang dilahirkan tetap sama, tergantung dari pribadi guru yang mengajar, masalah bersosialisasi, masing-masing sekolah pasti punya budaya perlakuan yang beda-beda.  

Menurut saya, keberadaan guru yang masih “panas” bisa memotivasi murid untuk mendalami pelajaran. Belum lagi penampilan guru yang kocak dan menarik, siswa pasti  menyukai guru yang tampan atau cantik –baru dan muda. Apalagi sinetron-sinetron sekarang banyak yang mengupas tentang itu. 

Pintar-pintar guru saja lagi mencari cara, bagaimana mengalihkan perhatian murid kepada pelajaran. Misalkan bereksprimen menggunakan games, role play, atau interactive lesson, seperti metode diskusi yang diubah menjadi acara kuis dan guru jadi pemandu acara. 

Entertainer. Itulah unsur yang lebih diperlukan untuk menjadi guru sekarang. Daripada imej seseorang yang berkutat dengan buku diktat di tangan dan mendikte apa yang harus dilakukan siswa, figur yang sudah jauh ketinggalan zaman, dan tentu saja, guru-guru muda punya keunggulan dalam hal ini. 

Saya akui tidak punya gambaran yang jelas tentang nasib guru muda zaman sekarang. Bagaimana figur guru muda yang kaya dan sukses ? Saya belum tahu bagaimana standar bagus tidaknya, tapi satu hal yang pasti, teman-teman di daerah suka mengeluh kecilnya gaji yang diterima guru honorer. 

Saya kira masalah gaji sudah jadi masalah yang mengglobal di dunia per“guru”an. Bahkan di hari guru kemarin, saya sempat menyaksikan acara yang mengupas tentang guru SD/SMP yang mesti berprofesi sampingan sebagai tukang ojek. Kalau mau lebih dalam, banyak lagi kisah-kisah “unik” lain yang luput dari perhatian. 

Teman-teman bercerita kalau ada yang digaji 4500 per jam pelajaran. Ada juga yang sambil menjadi pustakawan atau merangkap petugas T.U, gajinya jika di total 200-300 ribu per bulan. Garuk-garuk kepala juga kalau mesti seperti itu, entah bagaimana nasib guru honorer di daerah lainnya ya ? 

Tapi rupanya mereka sangat mengerti, semua manusia perlu berproses dulu sebelum menjadi lebih baik. Tidak ada yang instant dan langsung cepat jadi. Semua dimulai dari hal kecil baru menjadi besar. Contohnya ¿ Yang tadi guru honorer, kini mengejar mimpi menjadi kepala sekolah. 

Saya menghibur kawan-kawan sambil menulis, keberadaan guru muda di suatu sekolah pasti membawa kegairahan tersendiri. Sekolah jadi lebih hidup, karena mereka membuat hidup jadi lebih hidup. Akhirnya guru yang lain juga menjadi lebih hidup. Maka oleh itu, hidup para guru muda ?!. 

 

Advertisements

4 thoughts on “Hidup Guru Muda ?!

Add yours

  1. Guru yang berkualiatas tidak dipengaruhi usia.
    Nurut saya tugas seorang guru tu bukan hanya membuat muridnya pintar, tapi membimbing supaya apa yang dipelajari,apa yang pernah diajarkan bisa dipraktekkan oleh muridnya dimasyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: