Mari Benahi Pendidikan Bersama

Oleh : Syamsuwal Qomar

Sungguh sulit dipercaya, menginjak usia  kemerdekaan yang ke 62, ternyata masih lumayan banyak masyarakat kita yang  terkategori “rabun baca”. Bukan dalam kiasan malas atau tak punya keinginan untuk membaca, tapi benar-benar tak mampu mengenali aksara.

Sampai perkembangan terakhir tercatat 14,6 juta jiwa yang buta aksara di Indonesia. Mengambil contoh di ibu kota, tahun 2006 terakhir tingkat buta huruf mencapai 11.000 orang. Jumlah yang dipercaya akan semakin bertambah dengan angka putus sekolah yang mencapai 23.000 orang. Entah bagaimana ya dengan nasib daerah lainnya?

Angka yang dikategorikan “tinggi” itu akhirnya menimbulkan efek domino. Sistem pendidikan di negara ini dicap gagal memenuhi targetnya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Ujung-ujungnya berimbas pada kualitas SDM yang disinyalir, menjadi salah satu faktor mengapa bangsa kita cenderung dipandang sebelah mata.

Padahal pemerintah sudah berusaha maksimal dengan menerapkan UN. Langkah nyata yang dipercaya sebagai kontrol kualitas anak-anak bangsa. Namun perihal aplikasinya kembali menohok perasaan. Dari sekian ribu sekolah ditanah air, ternyata hanya 23 sekolah yang diakui benar-benar terstandar secara internasional oleh IBO.

Masihkah UN dipercaya sebagai jalan yang solusif? Sudah benarkah jalan pelaksanaannya di sekolah? Apakah UN benar-benar mewakili kecerdasan seseorang? Berbagai pro dan kontra pasti akan mewarnai jawabannya. Mari sejenak melupakan perdebatan tersebut dan melihat apa saja yang bisa dikerjakan demi pendidikan bangsa.
    
Diri Pribadi dan Keinginan Berbagi

Beberapa hari yang lalu saya dikritik oleh seorang teman, alumnus FKIP Unlam yang sekarang menjadi guru disebuah sekolah swasta. Kebetulan ia menghubungi saya setelah melihat beberapa postingan di blog ini. Teman saya ini bukan tipe “pembantai karya”, karena ia juga suka menulis. Ia hanya berharap mudah-mudahan bisa bertukar pikiran dan saling berbagi karena sama-sama berkecimpung di dunia pendidikan.

Saya tentu saja sangat girang. Bisa bertemu mendapat teman baru yang tentunya memberi banyak masukan, meskipun kritikannya juga lumayan pedas. Ia menilai kalau saya terlalu sering mengeluh terhadap sistem pendidikan yang ada. Menurutnya, (bila nanti menjadi guru) saya harus lebih sering memberi semangat dan solusi yang menawarkan perubahan, meski pada awalnya hanya dimulai dari hal kecil.

Contoh masalah UN, bila hal demikian dipercaya menjadi standar pemerintah, kenapa mesti memunculkan berbagai pendapat atau keluhan. Alangkah baiknya jika cukup dijalankan dengan baik tanpa kecurangan. Hal yang pasti dipercaya lebih baik sebagai tindak nyata dalam dunia pendidikan.

Pendidikan yang pasti dipercaya bukan hanya urusan pemerintah, tapi juga mereka yang terlibat menjalani. Inilah saatnya untuk memunculkan aspek tenggang rasa dalam diri untuk  membantu mereka yang serba kekurangan. Bukan hanya senantiasa memunculkan esensi-esensi negatif dari suatu keadaan, institusi maupun lingkungan.  

Dalam bahasa lain mungkin disebut filantropi. Suatu konsep cinta kasih atau kedermewanan untuk memikul tanggung jawab bersama yang diharapkan mampu memberi kontribusi lebih. Beranjak dari konsep berbicara menuju konsep bertindak dalam memperbaiki sesuatu.

Seperti contoh dalam kasus “rabun baca”. Masih ada hal-hal lain yang bisa dilakukan seandainya tidak menjadi orang yang bertugas langsung memberantas buta aksara. Dalam ruang lingkup mahasiswa, paling tidak saya disarankan untuk berdisiplin membaca buku, lalu  mengajak sebanyak mungkin mahasiswa lain untuk menanamkan minat baca.

Belajar berbagi ilmu dan bertukar pikiran bersama, saling menerima dan memberi bantuan (apalagi saya lebih sering dibantu daripada memberi bantuan H3w). Mudah-mudahan mampu melahirkan generasi pembaca yang nantinya siap memikul tanggung jawab besar bagi bangsa ini. Dalam hati akhirnya saya bersyukur, saya bisa belajar banyak dan menyadari beberapa kekeliruan dari keadaan sekeliling saya, termasuk kritik dari sang teman ini.

Terakhir ia memberi referensi berupa buku Laskar Pelangi yang berkaitan langsung dengan pendidikan, bagian pertama dari tetralogi karya Andrea Hirata. Buku yang tak asing lagi telah menjadi best seller dalam skala nasional.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketHasil karya yang benar-benar menyentuh hati dan memberi teguran. Nun jauh didaerah pedalaman dan tak mudah dijangkau, terpenjara dalam keterbatasan dan sarana yang awut-awutan, ternyata masih ada anak-anak yang rela melakukan apa saja demi pendidikan.

Mungkinkah tokoh-tokoh dalam buku itu benar-benar hidup didalam kenyataan? Kalau itu terjadi, pasti akan membuka mata lebih lebar kalau pendidikan memang bisa dimiliki siapa saja. Mereka yang ingin terus belajar dan berjuang mendapatkannya. Maka oleh itu untuk memperbaikinya juga, mari berbagi ilmu, kritik dan komentar demi pendidikan bersama.
 
 

Advertisements

14 thoughts on “Mari Benahi Pendidikan Bersama

Add yours

  1. Kenapa pendidikan di negeri kita hanya jalan di tempat? Menurut hemat saya, dunia pendidikan telah dipolitisir terlalu jauh. UN, misalnya, sebenarnya ngotot dilaksanakan karena alasan politis juga. Pemerintah kita malu jika ditanya oleh negeri tetangga tentang berapa kriteria kelulusan sekolah. Karena itu pula lantas ditempuh secara instan dengan mematok angka kelulusan secara nasional. Itulah ironi yang terjadi di negeri ini, Pak Syam. Politik bukan dimanfaatkan untuk meningkatkan mutu pendidikan, melainkan justru diterapkan untuk memanipulasi dunia pendidikan.

  2. Nyambung lagi, ya, Pak. Idealnya UN hanya digunakan untuk memetakan mutu pendidikan. Kelulusan diserahkan ke sekolah masing-masing. Sekolah yang rendah dalam mematok angka kelulusan, itu bisa jadi indikator bahwa sekolah tersebut masih tergolong rendah mutunya. Dan ini mestinya perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Selama ini kan tidak! Kompetensi lulusan sekolah di daerah pedalaman disamaratakan dengan daerah perkotaan. Ya, seperti bumi dengan langit. Tapi yasa pribadi masih optimis, Pak Syam, suatu ketika dunia pendidikan akan berlangsung bagus dan bermutu sehingga mampu mengangkat marwah bangsa tanpa harus mengotorinya dengan ranah politik. OK, salam.

  3. Thanx pendapatnya pak sawali, bener-bener inspiratif dan informatif buat saya. Iya pak, guru-guru juga sepertinya mau tak mau mesti mengikuti sistem demikian kalau ingin bertahan.

    Kasihan ya, kreativitas dan idealisme jadi terkebiri. Bahkan ada temen saya yang juga “cagur” demikian kritis bicaranya, “pendidikan sekarang cuma jadi bisnis dan lahan-lahan kapitalis”

    Begitu juga dengan penyamarataan standar kelulusan. Takutnya, akan terjadi ketimpangan yang malah bisa sampai menjurus ke arah kesenjangan sosial.

    Mudah-mudahan jangan sampai! Mudah-mudahan cita-cita kita melihat dunia pendidikan bangsa yang lebih baik bisa tercapai pak Sawali, Amien

  4. Memang sih, standard pendidikan di negeri kita ini, masih sangat sangat timpang. Memang di beberapa kota besar, standard pendidikan sudah ada yg bertaraf internasional, sedangkan di daerah2 pedalaman, boro2 standard internasional, standard daerahpun belum tentu dicapainya!

    Masalahnya memang sangat kompleks, bukan hanya masalah dana, tetapi intinya juga banyak yg berasumsi bahwa pendidikan itu bukan hal yang paling utama dalam pembangunan daerah! Padahal yang namanya pendidikan itu sangat penting untuk membangun SDM lokal yang pada akhirnya dapat mendongkrak perekonomian daerah. Memang pay-off atau return dari pembangunan SDM ini agak lama dibandingkan pembangunan infrastruktur fisik, namun pembangunan SDM ini sangat pasti dan jikalau sudah pay-off, multiplier yang didapatkan bisa sangat tinggi, sehingga dapat mendongkrak perekonomian jauh lebih hebat dibandingkan hanya sekedar pembangunan infrastruktur fisik.

    Walaaah… OOT ngga ya? :mrgreen:

  5. Pengennya sih ikut berbagi. Tapi, kalau berbagi ilmu belum bisa, ilmunya sedang ditimba. Berbagi pengalaman aja deh…

    Iya, berkeluh kesah tidak akan memperbaiki nasib pendidikan kita. Dari pada berkeluh kesah mendingan menulis kaya begini. Siapa tahu suatu hari ketemu ide yahud yang bisa memajukan dunia pendidikan. Okey deh, selamat berjuang untuk dunia pendidikan.

  6. @ Yari N.K : dengan keadaan demikian, wajar rasanya bila UN menjadi begitu kontroversial akibat kurang meratanya fasilitas dan kualitas pendidikan diseluruh negeri.

    Iya juga mas Yari, hasil dari pembinaan SDM lokal biasanya juga tak bisa dilihat dengan cepat, karena butuh proses pematangan yang bertahap dan lumayan memakan waktu lama.

    Faktor yang membawa pengaruh kuat sehingga pendidikan yang membina SDM dianggap kurang membawa kontribusi dalam pembangunan.

    @ Hanna : Pengalaman kan juga ilmu toh mbak? Thanx atas masukannya dan segala motivasinya. Ide yahud? ini lagi nyari-nyari, h3w

  7. Klo gitu saya berbagi dengan apa yg saya bisa. Tentunya melalui media blog. Karena dari media inilah saya bisa sharing informasi. Setidaknya apa yg saya lakukan mungkin bisa mengurangi, atau mengarahkan untuk menjadi positif. Walaupun kapasitasnya kecil. Mudah2an ide positif senantiasa bermunculan. 😀
    Btw EQ nya sekarang udah mantap dong? 😛

  8. Yang paling bagus … mempraktikkan apa yang dipikirkan walaupun dikit … untuk pendidikan. Jangan pernah mengeluh soal pendidikan … yang dibutuhkan pendidikan perbuatan. Salam

  9. Assalamualaikum,bagaimana caranya kita benahi masalah pendidikan ya kita bisa memulai dari diri sendiri misalnya atau buat yang telah berkeluarga mempunyai anak, mari kita didik anak-anak kita agar mereka kelak yang memajukan dunia pendidikan mulai dari sekarang. Wassalam.

  10. @ Benbego : yang penting kita bisa berbagi mas Ben. Informasi apa saja, apalagi segala pengetahuan yang yang mengarah kepada hal-hal positif. So pasti.
    E.Q saya dah mantap?
    wadooow, masih belajar nih..h3w.

    @Ersis WA : Betul Pak Ersis, memang harusnya seperti itu.

    @Fira : Waalaikum salam, wah sarannya bagus mbak. Penididikan memang hendaknya dimulai dari diri sendiri dulu. Dari hal kecil menuju ke hal2 yang lebih besar. Karena (katanya) ada istilah “kita tak akan bisa merubah orang lain kecuali merubah diri sendiri terlebih dulu ke arah yang lebih baik” (Heleh..So So;’an) H3w

    @Al-Mascatie : Harapannya pendidikan memang mesti bernostalgia ke hakekatnya, memberikan kedewasaan dan pikiran-pikiran yang bijak kepada peserta didik. Mudah-mudahan ini bisa lebih disadari mas Al-Mas.

  11. Saya berharap teman barumu yang “tak suka membantai” itu ada dan banyak terdapat di dunia pendidikan kita. Sehingga kecerdasaran dan kecemerlangan dalam memahami situasi carut marut pendidikan sedikitnya bisa berkerjasama.

    Memang persoalan “rabun baca” itu rupanya penyakit turunan. kita butuh dokter yang mampu menginjeksi jenis penyakit ini. Agaknya, sampean bisa memulai nih membibit generasi “dokter penyembuh rabun baca” heheh 🙂 selamat berjuang mas… 🙂

  12. Mengatakan memang mudah, tapi melaksanakan di lapangan tak semudah mengucapkan. Maksud saya, memang idealnya guru sebagai ujung tombak dunia pendidikan jangan banyak mengeluh. Terima saja sistem yang ada. Perbaiki yang kurang. Berikan solusi dengan penuh semangat. (ini menurut saya: Guru Ideal).
    Saya termasuk ‘bukan guru ideal’ sehingga boleh dong berkomentar, berkeluh kesah tentang carut marut dunia pendidikan kita. Tujuan sebenarnya sih untuk berbagi beban, berbagi cerita sehingga ada yang mendengar dan melahirkan sebuah tindakan atau solusi.
    Perkenalkan, saya seorang guru yang mengajar di sebuah daerah ‘Sangat Terpencil’. Jangan tersenyum dulu (menuduh saya suka mengeluh). Label sangat terpencil ini bukan dari saya, tapi memang keputusan Bapak Bupati kami yang menetapkan daerah saya sebagai daerah ‘Sangat Terpencil’.
    Di sini saya menemui sebuah sistem pendidikan yang ‘Carut Marut’. Saya tidak akan menunjuk hidung atau kambing hitam, tapi saya akan menyebutkan contohnya saja.
    Begini: Saya mengajar matematika di SMP. Pada suatu hari saya mengajarkan tentang ‘Aritmatika Sosial’ yakni ‘untung-rugi’. Mudah kan menurut anda mengajarkan untung-rugi kepada anak SMP. Untung=Harga Jual-Harga Beli. Rugi=Harga Beli-Harga Jual.
    Saya berikan contoh masalah jual beli ikan karena daerah tersebut mayoritas penduduknya hidup dari mencari ikan. Saya tanyakan berapa keuntungan yang diperoleh seorang pedagang ikan yang membeli 10Kg ikan Gabus seharga Rp. 15.000,- perkilogram lalu menjualnya seharga Rp. 17.000,- perkilogram. Ah, tentu anda semua mudah menghitung bahwa untungnya Rp. 20.000,- dan seharusnya anak-anak saya juga mudah mendapatkan jawabannya.
    Tapi, yang terjadi adalah hal yang menjengkelkan saya (Sekali lagi, saya bukan guru ideal). Beberapa siswa yang dari awal sampai akhir pelajaran tidak dapat mengerjakan soal.
    Setelah saya teliti, ternyata mereka tidak bisa melakukan perkalian. 20×2.000 mereka tidak dapat menghitungnya.
    Salahkah saya mengeluh:
    “Sungguh terlalu guru SD yang mengajari murid saya dahulu sampai perkalian sederhana saja tidak mengerti”
    “Bagaimana mau menghadapi UN SMP, pelajaran SD saja murid saya masih belum tuntas”
    Dan segudang keluhan lainnya. (Ingat: saya bukan guru ideal).
    Jadi bagaimana saya harus bersikap.

  13. @ Kurt : begitulah mas Kurt, melalui blog ini juga harapan saya, mudah-mudahan pengunjungnya bisa ikut berbagi dan menuangkan gagasan (sekecil apapun)tentang pendidikan.

    Agar bisa jadi referensi dan pengetahuan , apalagi bila sampai terjadi diskusi hingga terlahir ide-ide brilian mencerdaskan anak bangsa.

    Dokter rabun baca? Amien mudah2n mas Kurt, tapi kalau boleh jujur…Saya masih tergolong makhluk yang malas baca..h3w

    @ Syam Al-Idris : Thanx dah berkunjung kesini, pertama saya sungguh salut dengan anda, sebagai guru yang sudah dalam tahap “melakukan” dalam pendidikan bangsa.

    Masalah yang anda hadapi juga sering terjadi di daerah-daerah yang dianggap “terpencil”, bahkan pernah ditemui anak-anak kelas 6 SD yang belum juga mampu baca tulis. Pertanyaan yang muncul ikut serupa, bagaimana menghadapi UN?

    Disini mungkin terletak tugas pendidik, seseorang yang harus mengeksplor pengetahuan siswa dan kembali meletakkan dasar-dasar pengetahuan yang belum diketahui.

    Anda mungkin mengeluh, tapi sudah berusaha untuk mengajar, mengeksplor dan meletakkan dasar-dasar tersebut secara perlahan-lahan.

    Saya percaya, dengan banyaknya guru-guru seperti demikian, hal-hal kecil bisa menjadi hal besar. Bukan tak mungkin, keinginan siswa dapat terus dipacu hingga dapat memenuhi standar UN.

    Kalaupun gagal, setidaknya sudah terdapat usaha. salam dari Banjarmasin dan teruskan perjuangan, saya bahkan punya cita-cita akan menyusul anda membangun bangsa melalui pendidikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: