Pendidik juga Pahlawan?

3 hari barusan kita memperingati hari Pahlawan, sebagai lambang penghormatan pada para pejuang yang bertempur melawan penjajah, sampai didirikannya Tugu Pahlawan, “tanda jasa” bagi mereka yang berjuang sampai titik darah penghabisan.

Tiap-tiap individu pasti punya perbedaan dalam memaknai kata pahlawan. Yang ada di pikiran saya, pahlawan adalah mereka yang berani berjuang menantang kelaliman demi kelangsungan bangsanya. Seseorang yang mau ikut berkorban saat orang-orang disekitarnya menderita.

Siapa saja mungkin bisa menjadi pahlawan. Seorang jaksa yang adil, orang kaya yang dermawan, atau sekedar seorang kepala keluarga yang menjadi tumpuan hidup anak-anak dan istrinya. Tak peduli seberapa kecil penghargaan yang diperoleh, mereka tetap memperjuangkan hal yang diyakini sebagai kebenaran.

Dalam dunia pendidikan contohnya, puluhan tahun sebelum merdeka, bangsa kita dibatasi haknya untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Namun karena keberadaan orang-orang yang berani mengorbankan nyawa dan menantang penjajah demi generasi bangsa, kesempatan sempit tersebut tetap tidak ter sia-siakan.

Hanya dalam belasan tahun bangsa Indonesia mampu beregenerasi melalui sekolah-sekolah yang didirikan para pendidik bangsa. Tak pelak, keberadaan mereka pula yang menjadi pondasi dasar pendidikan, sehingga bermunculan golongan intelektual yang membuat negara kita mampu berdiri sejajar dengan negara-negara lain di dunia.

Embrio Pendidikan Bangsa

Pada tahun 1908, seorang pria asal Sleman bernama Wahidin Sudirohusodo bertemu dengan Sutomo, mahasiswa yang kuliah di STOVIA (Sekolah Dokter Pribumi) dan baru berusia 20 tahun di daerah ibu kota Jakarta.

Siapa yang menyangka, pertemuan itu akhirnya berbuah embrio pendidikan bangsa. Setelah Wahidin dengan semangatnya menggagas “Studiefonds” atau “dana pelajar”, Sutomo menyambut positif gagasan tersebut dan langsung mengumpulkan kawan-kawannya di gedung STOVIA.

Mereka sepakat mendirikan organisasi Budi Utomo (BU) dan Sutomo ditunjuk sebagai ketua. Tujuannya cukup bergerak di bidang pendidikan serta budaya, dan dalam waktu enam bulan, BU sudah mendirikan cabangnya di banyak kota besar di Jawa dan Madura.

Meskipun pada akhirnya, BU harus tenggelam karena terdesak oleh organisasi-organisasi yang lebih radikal. Mereka menjadi benih semangat kebangsaan dan menjadi pelopor pergerakan nasional. BU tercatat sebagai organisasi pertama yang disusun secara modern di Indonesia dan hari lahirnya, ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Ada dua hal yang begitu menarik dari pembentukan BU, pertama, mereka didirikan oleh kerja sama yang sinergis antara kaum tua dan muda. Dua, BU sebagai organisasi pertama yang menyulut kebangkitan bangsa adalah badan yang bergerak di bidang pendidikan, bukan politik.

Sungguh hal yang begitu ironis, bergulirnya roda zaman sekarang justru membuat pendidikan bergeser dalam interpretasi bangsa. Berbagai komponennya satu persatu copot berterbangan, sekolah-sekolah yang compang-camping dan guru-guru yang kurang penghargaan.

Wajar bila banyak yang mempertanyakan, begitu dana Pilkada sedemikian besar dan politik menjelma menjadi permainan yang mengasyikkan, jika alasan yang mencuat adalah untuk menopang kemajuan dan pembangunan bangsa, dimana sejatinya letak pendidikan?

Dalam keadaan demikan pula, Masih layakkah para pendidik disebut sebagai pahlawan? sebagaimana potongan Hymne :

Engkau sbagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
tanpa tanda jasa

Hal yang  rasanya kembali menjadi renungan, benarkah jasa-jasa pahlawan sudah terwarisi dengan benar? Patut kita jawab sebagai bangsa yang telah mereka perjuangkan.

Advertisements

16 thoughts on “Pendidik juga Pahlawan?

Add yours

  1. Pertanyaan itu benar sekali harus diajukan untuk pada guru-guru (dan kita). Apakah benar-benar pahlawan tanpa tanda jasa? ah itu mah lagu-lagu lama.. lagu baru pasti berbeda dong…

    Bikin dong mas lagu barunya… heheh 🙂

  2. Setju banget tuh Pak Syam. Siapa pun bisa menjadi pahlawan asalkan memiliki *halah* ketulusan, kejujuran, dan sikap tanpa pamrih untuk peduli pada sesama. Para pahlawan yang tenang di alamnya sana akan menangis jika nilai2 kepahlawanan yang dulu diperjuangkan dengan air mata, darah, dan nyawa. Kita semua adalah pewaris saha dari bangsa dan negeri ini sehingga masih harus tetap mengaplikasikan nilai2 kepahlawanan itu dalam kehidupan sehari-hari.

  3. Seharusnya pahlawan tanpa tanda jasa tu ditiadakan aja. Pengertiannya udah beda dg yg dulu. Klo sekarang masih dipake kesannya malah melecehkan. Ganti aja Pahlawan Sepanjang Masa! 😀

  4. Menurut saya…. sebutan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” bagi para guru baru pada sebatas nyanyian atau basa basi saja….. atau juga bisa hanya hiburan sesaat bagi para guru….

    Tetapi yang jelas, walaupun guru itu pahlawan atau bukan, guru itu memang banyak berjasa bagi kemajuan negeri ini….! 🙂

  5. miris rasanya… oh guruku… yang bikin aku dari “nggak bisa” menjadi “bisa”.
    kau tetap pahlawanku

  6. Aha … apa ngak lagu kuno? Kog ‘status’ pahlawan diraih-raih, diminta-minta, diidam-idamakan. Pola itu yang lucu kali ya. Coba pikir!

    Berbuat saja, ntar kalau dianggap (bangsa dan dunia) OK punya, ya … lebih dari pahlawan dapet tu. Sori … ini pikiran ngak jamak disaat orang suka … mngeluh, berharap, dan … minta dihargai he he. Biar adrenalin agak terpacu.

  7. Kalau hanya mewarisi jasa-jasa mereka rasanya belum cukup. Mungkin yang kita perlukan ialah meneruskan perjuangan mereka.

    Bagi saya guru itu tetap sosok pahlawan tanpa jasa. Karena gurulah saya bisa membaca dan menulis. Dari membaca dan menulis saya belajar banyak hal. Terima kasih guru…

  8. @ ajiputra : Thanks dah berkunjung, senang nih istilahnya, dari yang “nggak bisa” menjadi “bisa”

    @ EWA : h3w, menarik pak, guru kayaknya memang harus berjuang dan berbuat lebih banyak demi bangsa. sebagai pendidik, apalagi zaman sekarang, dimana setiap individu bergulat keras persaingan hidup.

    @ Hanna : Thanks kunjungannya mbak, mari sama2 meneruskan perjuangan. Dari postingan mbak Hanna sendiri sangat memotivasi, tak mustahil akan banyak lahir “pahlawan-pahlawan” sekarang nanti darinya.

  9. Sepertinya dari judul anda..,Pahlawan adalah sebuah gelar yang Wahh…sehingga harus diminta…bahkan diperjuangkan. Padahal mereka yang benar2 telah jadi pahlawan tidak pernah minta gelar itu…mereka hanya ingin setiap jerih payahnya terus diperjuangkan dan tak terhenti ketika mereka telah meninggalkan dunia yang fana ini.

  10. sapa yang duluan guru atau murid?
    *pertanyaan yang terlintas sejenak di kepala*

    guru kadang dilupakan… setiap gelar kadang hanya menjadi pemanis, namun dihati murid2nya selalu tertera dengan tinta emas setiap goresan kehidupan yang pernah ditulis

  11. @ 5haleh : benar, gelar pahlawan bukan sesuatu yang harus dikejar, mereka yang berjuang sepenuh hati tanpa pamrihlah pahlawan sebenarnya.Memperingati dan meneruskan perjuangan perjuangannya? so pasti mesti dilakukan. Trims dah berkunjung ke blog saya 🙂

    @Al-Maschatie :kata-katanya keren khas mas Al-Mas, kenapa komentnya juga nggak dibarengi puisi mas? h3w

    @Vino : Thanx dah mau singgah ke sini, gimana kalau tunjangannya aja yang dikasih? biar gaji pokoknya nggak usah, nggak apa-apa..wekeek.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: