Archive for November, 2007

Oemar Bakri Harus Dihapuskan

Posted: November 26, 07 in Pendidikan

Oleh : Syamsuwal Qomar

 

Tak seperti hari ulang tahun yang dirayakan meriah, hari guru (seperti biasa) kemarin diperingati dan diekspos dengan berbagai keprihatinan. Media cetak maupun tayangan televisi ditanah air berlomba menampilkan sosok guru-guru idealis nan melankolis, mereka yang tak mampu secara materi namun rela mengajar demi anak-anak bangsa.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketOemar Bakri kiasannya, pak guru bersepeda ontel dengan kopiah hitam yang miring. Orang tua yang menuntun sepedanya pulang disaat murid-muridnya memakai “kereta” berkilap dan terlindung dari hujan. Illustrasi yang sering saya temukan di beberapa media cetak lokal.

Entah sampai kapan figur ini lekat terhadap profesi guru. Mereka yang harusnya menjadi pelita bangsa, pemberi inspirasi dan pembawa budaya melalui kehlian yang disandang malah terpenjara dalam peran demikian. Kesalahan mereka yang kerap menjadi sorotan, segala harapan besar yang disandangkan, juga imbalan yang tidak pernah cukup untuk hidup layak.

(more…)

Mari Benahi Pendidikan Bersama

Posted: November 20, 07 in Pendidikan

Oleh : Syamsuwal Qomar

Sungguh sulit dipercaya, menginjak usia  kemerdekaan yang ke 62, ternyata masih lumayan banyak masyarakat kita yang  terkategori “rabun baca”. Bukan dalam kiasan malas atau tak punya keinginan untuk membaca, tapi benar-benar tak mampu mengenali aksara.

Sampai perkembangan terakhir tercatat 14,6 juta jiwa yang buta aksara di Indonesia. Mengambil contoh di ibu kota, tahun 2006 terakhir tingkat buta huruf mencapai 11.000 orang. Jumlah yang dipercaya akan semakin bertambah dengan angka putus sekolah yang mencapai 23.000 orang. Entah bagaimana ya dengan nasib daerah lainnya?

(more…)

Pendidik juga Pahlawan?

Posted: November 13, 07 in Pendidikan

3 hari barusan kita memperingati hari Pahlawan, sebagai lambang penghormatan pada para pejuang yang bertempur melawan penjajah, sampai didirikannya Tugu Pahlawan, “tanda jasa” bagi mereka yang berjuang sampai titik darah penghabisan.

Tiap-tiap individu pasti punya perbedaan dalam memaknai kata pahlawan. Yang ada di pikiran saya, pahlawan adalah mereka yang berani berjuang menantang kelaliman demi kelangsungan bangsanya. Seseorang yang mau ikut berkorban saat orang-orang disekitarnya menderita.

Siapa saja mungkin bisa menjadi pahlawan. Seorang jaksa yang adil, orang kaya yang dermawan, atau sekedar seorang kepala keluarga yang menjadi tumpuan hidup anak-anak dan istrinya. Tak peduli seberapa kecil penghargaan yang diperoleh, mereka tetap memperjuangkan hal yang diyakini sebagai kebenaran.

Dalam dunia pendidikan contohnya, puluhan tahun sebelum merdeka, bangsa kita dibatasi haknya untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Namun karena keberadaan orang-orang yang berani mengorbankan nyawa dan menantang penjajah demi generasi bangsa, kesempatan sempit tersebut tetap tidak ter sia-siakan.

Hanya dalam belasan tahun bangsa Indonesia mampu beregenerasi melalui sekolah-sekolah yang didirikan para pendidik bangsa. Tak pelak, keberadaan mereka pula yang menjadi pondasi dasar pendidikan, sehingga bermunculan golongan intelektual yang membuat negara kita mampu berdiri sejajar dengan negara-negara lain di dunia.

(more…)

BUBARKAN SEKOLAH ?

Posted: November 4, 07 in Pendidikan

 

Oleh : Syamsuwal Qomar

Minggu-minggu ini Banjarmasin Post, salah satu koran lokal di tempat saya ramai memberitakan tentang pendidikan. Hari kamis kemarin muncul judul Guru SDN xxx Tolak UN, setelah beberapa hari sebelumnya juga dipajang judul-judul seperti Belajar di Samping Kuburan, Atap-atap Sekolah yang Ambrol dan Ruangan Kelas Amblas.

Gampang di tebak, sekolah-sekolah yang bernasib “naas” demikian pastilah sekolah pinggiran. Sekolah-sekolah yang terluput dari perhatian pemerintah karena jarangnya akses ke daerah terpencil, sehingga minimnya fasilitas sudah menjadi hal yang lumrah.

Tak jarang dijumpai, karena merasa diperlakukan tak adil, sekolah-sekolah yang terletak di pelosok ini akhirnya angkat bicara. Di saat sekolah-sekolah di kota memiliki fasilitas lengkap dan mampu meluluskan sebagian besar siswanya saat UN, mereka justru “harus” menolak UN karena banyak siswa mereka yang tidak bisa baca tulis. “Bagaimana bisa lulus UN?”

Sungguh hal yang ironis memang. Wajar bila sekolah-sekolah tersebut memilih WO duluan. Tapi yang masih patut menjadi pertanyaan kemudian, masa iya peran fasilitas sebesar itu dalam dunia pendidikan, sehingga dapat menjadi alasan ketidakmampuan siswa untuk belajar dan menyerap berbagai ilmu pengetahuan?

Terpicu dari hal ini, diam-diam muncul dialog terbuka antar mahasiswa FKIP di kampus saya. Para “cagur” yang “resah” dengan masa depan mengutarakan pendapat mereka dengan lugas dan terbuka, ditemui komentar biasa sampai saran unik yang membuat kening berkerut. Pendapat yang paling ekstrim pun akhirnya muncul belakangan, BUBARKAN SEKOLAH?!

(more…)