Oemar Bakri Harus Dihapuskan

Posted: November 26, 07 in Pendidikan

Oleh : Syamsuwal Qomar

 

Tak seperti hari ulang tahun yang dirayakan meriah, hari guru (seperti biasa) kemarin diperingati dan diekspos dengan berbagai keprihatinan. Media cetak maupun tayangan televisi ditanah air berlomba menampilkan sosok guru-guru idealis nan melankolis, mereka yang tak mampu secara materi namun rela mengajar demi anak-anak bangsa.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketOemar Bakri kiasannya, pak guru bersepeda ontel dengan kopiah hitam yang miring. Orang tua yang menuntun sepedanya pulang disaat murid-muridnya memakai “kereta” berkilap dan terlindung dari hujan. Illustrasi yang sering saya temukan di beberapa media cetak lokal.

Entah sampai kapan figur ini lekat terhadap profesi guru. Mereka yang harusnya menjadi pelita bangsa, pemberi inspirasi dan pembawa budaya melalui kehlian yang disandang malah terpenjara dalam peran demikian. Kesalahan mereka yang kerap menjadi sorotan, segala harapan besar yang disandangkan, juga imbalan yang tidak pernah cukup untuk hidup layak.


Mungkin hal yang cukup berpengaruh melahirkan imej tersebut akibat dari minimnya rasa peduli terhadap pendidikan. Contoh komparasinya dari negara tetangga Vietnam, presiden Ho Chin Minh menyatakan slogan no teacher, no education yang melandasi kebijakan membangun pendidikan dengan guru sebagai basisnya.

Sementara negara kita masih kelimpungan mengatasi masalah database guru. Banyak guru-guru kontrak yang tak terdaftar sebagai guru, para tenaga honor yang harus menunggu lama agar diakui menjadi guru tetap. Tak jarang mereka harus membaktikan diri lima sampai enam tahun, melebihi masa kerja yang seharusnya namun tak kunjung diangkat menjadi pegawai tetap.

Akibat ketidakpastian masa depan yang tersebut, identitas pendidik menjadi tidak populer. Profesi guru juga bukan profesi yang bergengsi karena rendahnya reward secara finansial. Jadi guru bukan hanya mendapat pukulan dari manajemen negara tapi juga dari perspektif masyarakat.

Keadaan demikian yang mayoritasnya terjadi sehingga lahirlah imej “oemar bakri”. Juga membuat guru-guru yang tidak mampu harus memiliki profesi sampingan lain demi memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Menghancurkan “Oemar Bakri”

Jika dicermati lebih seksama, memang tak pantas guru terpenjara dalam peran “pendidik” seperti yang dikiaskan. Guru memiliki peran yang jauh lebih baik, seorang pewaris budaya dan jembatan ilmu. Mereka yang digugu dan ditiru bukan hanya didalam kelas tapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Adanya gambaran “oemar bakri” terkesan menonjolkan lemah dan tak berdayanya seorang guru, lambang pelecehan terhadap profesi yang sebegitu mulia. Maka dengan bertambahnya dekade yang dilewati, sudah saatnya para guru tak tinggal diam dan memberontak menghancurkan gambaran “oemar bakri”.

Menggantinya dengan gambaran yang jauh lebih perkasa. Sebuah karikatur pribadi pendidik yang unik dan mencerminkan pembawa budaya bangsa. Figur yang benar-benar mewakili betapa kokohnya seorang pendidik di tengah kemelut dunia pendidikan nasional.

Guru-guru yang masih punya kesempatan belajar, dengan pengecualian mereka yang tidak mampu, dapat diminta dan diharapkan membagi ilmu bersama. Saatnya bertransformasi menjadi lebih baik, merapatkan barisan melalui solidnya hasil diskusi dan karya yang dihasilkan.

Ditambah dengan pesatnya teknologi yang berkembang, para guru bisa memanfaatkan sarana komunikasi yang lebih canggih via jaringan. Mereka bisa mengikuti perkembangan zaman dengan memanfaatkan Jardiknas. Teknologi yang sedang dikembangkan oleh pemerintah sebagai media pembelajaran bagi semua insan pendidikan.

Mungkin dengan cara demikian guru-guru bisa membantu rekan-rekan yang masih berkekurangan. Membenahi pendidikan secara perlahan-lahan dan membangun citra yang lebih menarik. Hingga kepedulian terhadap pendidikan tergugah dan masyarakat secara luas dapat merekonstruksi pandangan mereka terhadap profesi pendidik.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketSaatnya menatap masa depan dengan lebih optimis dan melupakan “oemar bakri”, karena takutnya, abadinya istilah tersebut juga dapat mempengaruhi dan menghancurkan minat para generasi muda bangsa. Mereka yang memiliki keinginan besar menjadi pendidik malah terjerumus dalam liang pesimis dan keinginan untuk berubah dalam diripun sirna.

Begitu keinginan untuk berubah itu menghilang, maka pendidikan bangsa juga akan tetap jalan ditempat tanpa adanya perbaikan, padahal, siapa lagi yang akan memperbaiki pendidikan terkecuali mereka atau kita? Semua anak-anak bangsa.

*Memperingati hari Guru dan Keprihatinan “BENCANA PENDIDIKAN”
2,6 juta guru di tanah air yang dinyatakan tidak layak mengajar*

Advertisements
Comments
  1. Setuju banget Psk Syam, “mitos” Goeroe Oemar Bakri harus dihapus. Tapi kapan bisa ya Pak? Sementara, masih banyak guru yang sempoyongan memanggul beban ekonomi keluarganya. Mudah2an hari guru tahun ini bisa jadi momentum untuk “menyelamatkan” nasib guru yang selama ini masih tersaruk-saruk “Hidup Guru!”

  2. benbego says:

    Hidup guru juga pak. Mitos Oemar Bakri semakin telak digambarkan melalui lagunya Iwan Fals. Mudah2an kedepan akan ada kemajuan. Hilangkan Oemar Bakri… Semangat!

  3. alief says:

    ayo guru…. jangan pernah berhenti berjuang 🙂

  4. SQ says:

    @ Sawali : Nah itulah yang masih ditunggu-tunggu pak. Kapan nasib guru kan berubah secara moril dan materi masih menjadi misteri.

    Terutama jika disoroti dari segi ekonomi yang memprihatinkan. Namun saya percaya pak, guru kan selalu dikenang sebagai manusia hebat dengan tak henti belajar dan berjuang.
    Dalam usahanya membuat perubahan dan melupakan imej “Oemar bakri, mari dukung bersama. “Hidup Guru dan Pendidikan”

    @ Benbego : Thanx dukungan dan semangatnya mas Ben, amien mudah-mudahan rekan-rekan guru bisa mendengarnya, bertransformasi juga untuk menjadi lebih baik di masa depan. O.k.

    @ Alief : Thanx atas dukungan dan kunjungannya, sama-sama menyemangati guru.

  5. Hanna says:

    Hidup guru! Selamat hari guru yach.

    Tugas seorang guru bukan hanya mengajar, mendidik, dan membimbing lho. Tugas lain seorang guru ialah wajib untuk terus belajar, menjaga sikap dan moral. Duh, sungguh berat yach tugas seorang guru. Tapi, nasib baik belum berpihak kepada guru. Moga segera ada perubahan yang baik.

  6. Yari NK says:

    Hmmmm… serba salah ya! Serba salah di zaman orang mengukur segala sesuatunya dengan kelayakan materi! Meskipun dalam beberapa aspek memang betul materi adalah tuntutan hidup yang riil!

    Habis sudah kata2 saya untuk menggambarkan nasib guru, selain sudah sering saya utarakan, juga sudah banyak dikatakan pula oleh rekan2 blogger yang lain. Tapi saya akan mengatakan bahwa sebenarnya guru tidak sendirian dalam hal ‘patut dikasihani’, banyak juga orang2 lain di negeri ini yang ‘patut dikasihani’, baik secara material maupun lebih2 secara ‘spiritual’. Lihat saja pejabat2 yang ngga tahu malu berkorupsi, atau lihat saja da’i2 komersial yang cuma bisanya tampil di TV jadi selebritis! dan masih banyak lagi, semuanya ‘patut dikasihani’!

    Yah, saya hanya bisa mengatakan dan (lagi2 hanya bisa) menyerukan “teruskanlah perjuarangan para guru”, mudah2an para guru meskipun tampak ‘kasihan’ di mata masyarakat, namun yang paling penting mudah2an guru tampak ‘sangat mulia’ di sisi Allah swt. 🙂

  7. Kurt says:

    Guru bagi saya luar biasa. Profesinya pun juga. Saya saja bercita-cita jadi guru gak kesampaian. Makanya
    Oemar Bakri, biarlan itu lagu lama.. saatnya lagu baru diciptakan. Dan sebelum lagu kedua muncul, keadaan guru sudah berbeda dari yang dulu-dulu. itu sendiri antara guru, masyarakat dan pemerintah… so , Ayo Guru tetap semangat!!!

  8. Selamat hari Guru juga pak SQ, semoga para Guru di Indonesia menjadi lebih baik lagi nasibnya.

    Melihat sejarah dan perkembangan peran Guru di Indonesia, sepertinya Guru tidak dapat lagi menyandarkan harapannya kepada pihak lain. Pemerintah, Partai Politik, PGRI, LSM, dan lain-lainya terbukti belum berhasil memperjuangkan atau memperbaiki kehidupan Guru.

    Oleh karena itu, Wahai para GURU sekaliah, mari kita bangkit, mari kita PERJUANGKAN nasib kita sendiri. Tapi bukan lewat DEMO atau UNJUK RASA. Tapi dengan memperkuat barisan di antara kita.

    Pertama: Bentuklah organisasi yang benar-benar mewakili semua GURU, benar-benar memperjuangkan kemajuan pendidikan, benar-benar memperhatikan nasib GURU. Hal ini akan membuat semua Guru dengan sukarela menjadi anggota, mendukung organisasi ini. Ingatlah, jumlah guru di Indonesia ada berapa juta, ditambah anggota keluarganya, ditambah anak didiknya, maka kita akan mempunyai bargaining politik yang kuat.

    Kedua: Mari kita tingkatkan kemampuan dan kompetensi diri, banyak belajar, rajin membaca sehingga Guru tidak lagi identik dengan ketertinggalan.

    Saya rasa, dua hal itu kalau benar-benar dilaksanakan sudah cukup untuk meningkatkan kemajuan pendidikan dan perbaikan nasib Guru.

    Bagaimana Pak SQ?

  9. D. Agus R. says:

    Kenapa ya media cuma berani mengiklankan sosok seorang guru yang lemah dan miskin tetapi tidak berani mengiklankan seorang oknum birokrat yang korup atau oknum TNI/Polri yang sedang melakukan pungli. Padahal iklan seperti akan bisa membuat masyarakat mengerti bahwa di negara kita memang begitu adanya.

  10. SQ says:

    @Hanna : Selamat hari guru juga, Thanx atas masukannya ya. Amien, mudah-mudahan harapannya terkabul dan nasib guru bisa benar-benar berubah nantinya.

    @Yari N.K :H3w, artinya guru nggak sendirian dong? Mudah-mudahan dalam kenyataan demikian, guru-guru bisa menyadari kalau berbagai keadaan yang menimpa mereka, merupakan bagian dari pertarungan dalam hidup mereka sendiri.

    Biarlah Tuhan yang menilai jasa-jasa mereka, bukan manusia, apalagi yang hanya melihat dari aspek materi belaka, setuju mas Yari.

    @Syam Al-Idries : Sama-sama pak Syam.
    boleh juga th, buat kembali suatu perkumpulan yang benar-benar memperjuangkan nasib guru.

    Dijaga “on track” agar tetap objektif dan fokus pada kepentingan guru sebagai pendidik. Jangan sampai nantinya malah terjerumus menjadi tunggangan politik atau mereka yang hanya mencari keuntungan.

    Demi mencapainya, meningkatkan kompetensi jelas mesti menjadi kewajiban bagi guru.
    Kalau ditempat saya, ada beberapa lembaga yang bisa mentutor guru agar bisa mengajar lebih baik pak?

    Hebatnya mereka bukan dari daerah, tapi justru dari luar negara. Mungkin mereka lebih peduli dengan nasib guru ditanah air ya? h3w.

    @D.Agus R. : wah, kalau berbicara hal demikian, mungkin karena lemahnya penegakan hukum di negara kita ya.

    Yang lebih menjadi pertanyaan, begitu guru tertangkap melakukan pungli, mereka dihujat dan diperingatkan dengan peran sebagai pendidik.
    Sementara oknum yang lain? Padahal boleh diadu pendapatannya. H3w

  11. Ale says:

    Tentunya peran guru tidak akan pernah lepas dari benak kita kan?
    Guru yang galak, guru yang baik, Guru yang ramah, selalu menjadi kenangan. peranan mereka sepertinya hanya lewat begitu saja begitu kita meninggalkan masa pendidikan, tetapi pengaruh mereka terhadap pembentukan pola pikir kita kadang begitu mengena dan membekas.
    Selamat hari Guru Pak!!

  12. Heran juga napa sih guru selalu diidentikkan dengan sepeda, padahal sekarang dah rata2 pake motor semua. apalagi di skul PPL ku kemarin just me yang pake sepeda T_T
    Tapi q males ngucapin hari guru kayak yang diatas, bisnya dirayain atau gak, tetap ai nasib guru kayak gitu2 jua, untuk dapat gaji tinggi z mesti bersertifikasi segala, padahal kalo gak da guru tetep bego2 semua. Selama guru masih ‘diinjak2’ jangan harap Indonesia bisa maju kayak Jepang, iya kalo lah.. btw, ini cuma kunjungan balasan, kapan mampir lagi??

  13. Ersis WA says:

    Ya ya ya Lagu lama asyik didengar lho

  14. almascatie says:

    sayah ga bsa ngomong apa2 melihat ini semua

  15. bangbadi says:

    salam kenal. Nice article 🙂

  16. pr4s says:

    Hidup Pak/Bu Guru…..

  17. Ngapdetnya kog lamban amat sih … kasian teman2 yang berkunjung … (Alasan tidak diperlukan he he)

  18. Bondan says:

    juara posting

  19. syaharuddin says:

    dengan adanya sertifikasi guru, harapan saya guru menjadi lebih profesional. Sehingga guru benar-benar sebuah profesi yang bergengsi sebagaimana dg profesi dokter, arsitek,dll. karena itu “omar bakri” yang digambarkan secara negatif oleh masyarakat kita secara alamiah akan hilang ditelan perubahan.

  20. Fakhriati says:

    Walaupun saya guru, tapi saya biasa-biasa aja tuh. Yang penting kita jangan lupa selalu bersyukur atas apa yang sudah kita dapat selama ini. Pada saat tes CPNS saya lihat cukup banyak peminat yang ingin jadi guru. Dan itu kelihatannya tidak gampang karena jumlah pelamar jauh lebih banyak dibanding quota. Itu menunjukkan bahwa posisi guru cukup diminati.
    Emang sih siapa yang ga ingin hidup senang and berkecukupan. Bagi saya, lebih menyedihkan kalau saya melihat pejabat atau wakil rakyat yang walaupun sudah berkecukupan tapi ga pernah merasa cukup sampai-sampai lupa untuk berkarya karena yang dipikirin cuma bahagaimana supaya jadi tambah kaya. Kecian dech…

  21. ednisofia says:

    Mas QOMAR untuk meningkatkan
    derajat guru dan supaya kelihatannya guru ,kelihatan tidak seperti guru bakri lagi gambar sepeda harus diganti dengan mobil yang mewah. kalau perlu guru harus berpenampilan seperti pegawai bank .

  22. rahmadona says:

    Guru, jasamu tiada tara. Amal jariyah yang tak pernah putus-putusnya..Amin

  23. H4KIM says:

    Ya, terlepas dari semua keprihatinan itu, guru harus tetap tegas dan semangat mengajar. He he …

  24. taufik says:

    kunjungi blog saya di taufik79.wordpress.com. salam

  25. suhadinet says:

    Kok ndak di update Pak Syam..padahal tulisan Bapak bagus-bagus.
    Salam kenal Pak

  26. Saya sangat sependapat dengan Bapak.
    Hilangkah kesan guru bodoh, gaptek, kumuh dan kumal.
    Selalu jadi bahan joke di belakang siswanya sendiri.

  27. jgn lg oemar bakrie.jadi abu rizal bakrie aja yg lbih keren.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s