Nasibmu Perpustakaan Banjarmasin

  Oleh Syamsuwal Qomar

Keberadaan perpustakaan di suatu daerah bisa dibilang memiliki peranan yang sangat vital. Bukan hanya sebagai tempat membaca dan koleksi buku semata, perpustakaan juga mencerminkan intelektualitas pribadi warga atau individu dalam mencari ilmu pengetahuan dan menjadi alat pengukur minat baca masyarakat disekeliling 

Mengambil contoh di daerah kita Banjarmasin, terdapat dua perpustakaan yang berdiri jauh  terpisah. Keduanya merupakan perpustakaan provinsi Kalsel. Perpustakaan Depdikbud  beralamat di Jl. Kapt. Pierre Tandean sementara perpustakaan nasional letaknya nun jauh di Jl. Jend A. Yani km 6.

Kedua perpustakaan ini bisa disebut “canggih” ? Tidak begitu canggih juga. Perpustakaan depdikbud misalnya sudah sangat tua. Fisik bangunan yang hampir keseluruhannya kayu belum juga direnovasi. Padahal sudah cukup rapuh. Sistem katalog yang masih manual serta mengusung gaya “oldies 80 an”.

Perpustakaan nasional sedikit lebih modern, dengan tekstur rumah banjar yang mewah, tempat ini cukup layak dijadikan sesuatu yang mewakili perpustakaan sesuai keinginan masyarakat. Taman yang asri dan ruang membaca yang luas. Terakhir perpustakaan ini sudah dilengkapi internet bagi pengunjung.

           

Menyangkut keduanya, jika kita mulai membuka opini, akan banyak pengamat pendidikan  yang menilai kalau keadaannya masih sangat menyedihkan. Memang tidak salah, kalau melongok perpustakaan diluar daerah Kalimantan –terutama pulau jawa, keberadaan keduanya tidak ada apa-apanya 

        

Perpustakaan nasional dan depdikbud kita tertinggal jauh, baik dari segi teknologi maupun buku-bukunya. Universitas Sanata Dharma di Yogya contohnya, mereka memiliki perpustakaan universitas yang dilengkapi ruang baca ber-ac, ruang diskusi dan seminar. Bahkan ada layanan yang dinamakan open system, mahasiswa mencari buku layaknya di Gramedia cukup dengan mengetik judul dan pengarang di komputer. Semua ini sudah berlangsung sejak tahun 2001 dan itu baru perpustakaan universitas ?

Jelas tidak bisa dibandingkan dengan Banjarmasin, apalagi dengan perpustakaan kotanya. Malah tambah menyedihkan, perpustakaan kota Banjarmasin –sebagaimana kita tahu, mesti berbagi tempat dengan gedung pramuka. Ruangan yang sangat kecil, bahkan sangat tidak layak untuk menyandang predikat perpustakaan kota.

Akibat dari bobroknya perpustakaan kota dan daerah ini akhirnya mengaburkan atau menonvalidkan peran perpustakaan sebagai alat ukur minat baca masyarakat. Ketimbang mengunjungi perpustakaan, masyarakat lebih memilih langsung mendatangi toko-toko buku atau taman bacaan yang menawarkan buku-buku terbaru

Buku-buku seperti Harry Potter atau Da Vinci Code yang tidak bisa ditemukan di perpustakaan dapat langsung dibeli atau disewa, ironisnya, tidak semua orang mampu membeli buku bagus. Mereka pun berharap bisa meminjam di perpustakaan, sayangnya perpustakaan juga tidak punya buku-buku baru.

Lumpuhnya fungsi perpustakaan dalam menyediakan buku baru ini membuat perannya berubah. Keberadaan perpustakaan jadinya identik dengan tempat “buku-buku buangan”. Memang masih banyak pengunjung yang senang menghabiskan waktu untuk membaca, tapi susah mengharapkan keberadaan buku baru. Akhirnya “terpaksa” membaca buku yang lama

Satu-satunya peran perpustakaan yang masih tersisa adalah sebagai tempat mencari literatur skripsi bagi mahasiswa yang juga “terpaksa” membaca untuk menyelesaikan studinya. Harus diakui kalau peran yang ini masih efektif, mengingat jika melihat tabel pengunjung dan anggota, 80 persen dikuasai oleh mahasiswa.

Jelas ini sangat tidak bagus bagi pembangunan daerah, terutama di bidang pendidikan. Kita tentu merasa malu dengan daerah lain jika melihat keadaan perpustakaan yang gaptek, buku-buku lama yang berdebu, dan hanya dikunjungi oleh orang-orang yang “terpaksa” membaca.

Keadaan perpustakaan yang seperti ini juga menjadi refleksi acuhnya pemerintah daerah menanggapi pentingnya makna pendidikan bagi warganya. Salah-salah bisa jadi bumerang, warga Banjarmasin dianggap masyarakat yang bodoh karena tidak suka membaca.

Maka oleh itu, pemerintah daerah ataupun kota wajib untuk segera berbenah. Terakhir memang usaha kesana sudah ada, meskipun pergerakannya masih sangat lamban. Di perpustakaan depdikbud, buku-buku baru sudah mulai tersedia, meskipun jumlahnya baru 2-3 rak, biarlah dulu, asalkan sudah ada.

Di perpustakaan nasional provinsi nampak sudah mulai ter komputerisasi. Lebih bagus bila perpustakaan ini punya website atau buku panduan dan semacamnya. Berbagai pengembangan perlu diadakan, misalnya menyelenggarakan pelatihan atau kursus pustakawan di daerah.

Yang paling patut mendapat perhatian adalah perpustakaan kota. Tempat yang satu ini perlu gedung baru, sarana transportasi baru, tenaga kerja baru, sistem IT yang baru, kalau bisa semua semua fasilitas dilengkapi sehingga benar-benar mencerminkan Perpustakaan Kota Banjarmasin.

Bukan main-main, ini menyangkut imej kepedulian pemerintah kota. Terakhir memang sudah diajukan anggaran untuk memiliki gedung baru, entah kapan di “acc” nya. Sejak pindah dan berbagi gedung ditahun 1999. Bantuan yang didapat baru berupa sumbangan buku, satu motor dan satu mobil untuk perpustakaan keliling.

Sungguh ironis memang jika melihat kondisi perpustakaan-perpustakaan di Banjarmasin. Dari pihak perpustakaan sendiri, kebanyakannya cuma bisa pasrah, menunggu bantuan yang enggan datang. Namun kita salut, masih ada perpustakaan-perpustakaan yang memiliki idealisme tinggi melawan keterbatasan.

Perpustakaan Unlam contohnya –dahulu keadaannya jangan ditanya, kemarin sempat mengadakan lomba menulis essai dan resensi buku demi memasyarakatkan minat baca. Sayang respon yang didapat masih jauh dari harapan, bisa jadi karena imej perpustakaan yang sudah bobrok di mata mahasiswanya.

Sekarang perpustakaan sudah pasang internet lewat akses speedy. Juga ada program khusus dalam Renstra Unlam 2006-2010 untuk meningkatkan perannya dan janji purek I untuk membenahi.

Sepertinya perpustakaan Unlam ingin memulihkan nama baik sebagai perpustakaan, mengingat mahasiswa-mahasiswanya lebih suka mendaftarkan diri dan mencari bahan diluar.Perpustakaan kota juga berusaha keras menunaikan tugasnya, mereka punya istilah “jemput bola” dengan mendatangi sekolah-sekolah dengan mobil yang tersedia demi menanamkan minat baca sejak dini di masyarakat. Itu semua inisiatif sendiri tanpa adanya program atau perintah. 

Dalam kondisi serba terbatas tersebut, perpustakaan-perpustakaan di Banjarmasin memang perlu “pintar-pintar sorang” menyikapi keadaan. Mudah-mudahan inisiatif mereka mendidik bangsa lewat bacaan ini akhirnya tercium lebih dalam oleh pemerintah atau orang-orang kaya yang peduli pendidikan. Demi membangun daerah kenapa tidak ? 

Mana tahu ada benarnya 

Advertisements

9 thoughts on “Nasibmu Perpustakaan Banjarmasin

Add yours

  1. sip banget nih…kebetulan kemarin saya sudah diusulkan pa Ersis baca buku dunia tanpa sekolah punya Izza Ahsin, kalau mbak mau coba baca, bukunya bagus. kita bisa diskusi sama-sama, Sangat melecut dan membenahi pemikiran, terutama dalam menulis ?!

  2. Hi3… Ganti warnaya jadi serem, gelap.Kalo gito doaiin ogut aja ya biar cepat kaya n segera bikin perpustakaan plus taman bacanya yang nyaman.

  3. amien, so pasti. kita diskusi aja masalh buku disini ? ga papa kan ? kalau nunggu punya perpustakaan ? saya juga mau…he..he..he, sekarang diganti tampilannya supaya lebih terang, maklum, masih utak-atik blog sendiri nih…backgroundnya padi, supaya tidak jadi orang sombong, makin berisi makin menunduk. tahnks ya mbak dah berkunjung

  4. Wah,dah terang nih sesuai nama yang punya.Diskusi buku ?? okey aja,coz saya senang membeli buku,celakanya malas baca.Paling buka-bukan n liat bentar aja.Betul tu,mesti seperti ilmu padi.Kesombongan adalah awal kegagalan.

  5. Alangkah bagusnya kalo gambar sawahnya itu ada mataharinya juga.Sorry lho saya orangnya suka iseng.Makaci ya, udah diijinin numpang membaca.Kalau kesulitan nyari buku dibanjar,email kesaya aja,saya bantu nyariin plus kirim.Gratiss.

  6. hi3. bukunya dah sy beli.tinggal baca.bagus bgt tu.mengharukan.tp sepertinya menulis itu bisa membuat ketagihan,jadi betah ddidepan komputer.jadi lebih sering berimajinasi.Ada buku bagus lho judulny,”Mengharap anak menjadi naga”.
    wui, banyak yang bisa dijadikan pedoman hidup.minta alamatnya dong biar sy kirimin.tuk tambah koleksi buku lumayanlah.siapa tau beberapa tahun kedepan punya perpustakaan kecil dirumah,ya ga?

  7. kebetulan saya punya kategori personal library sekarang. Mohon dikunjungi dan komentar ya ??Alamat Insya Allah nanti saya kirim lewat e-mail. “mengharap anak jadi naga” ? kalau dah ketemu dan saya baca..bisa kita posting ntar…biar kita diskusikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: