Kisah Silaturahmi Buku dan Komik

Posted: October 15, 07 in Menulis

Oleh :
Syamsuwal Qomar

 

Lebaran biasanya identik dengan mudik, silaturahmi dan ketupat. Namun berbeda dengan kebanyakan orang, saya justru tidak pergi ke mana-mana saat lebaran. Saya mudik di rumah saja  🙂

Bukannya tidak punya keluarga di luar kota, akibat beberapa kegagalan teknis, saya mesti tinggal di rumah dan gagal melancong. Baru bisa bersilaturahmi dengan keluarga jauh 2-3 hari sesudah lebaran. Tepatnya hari ini, saat anda membaca postingan ini mungkin saya dalam keadaan mudik  🙂

Wajib bawa ketupat yang jadi makanan di rumah tiap lebaran. Lebaran dua hari yang lalu, sehabis shalat Ied, kami sekeluarga bersalam-salaman dengan saudara dan orang tua, bertangis-tangisan minta ampun karena banyak dosa (berlebihan 🙂 ), baru kami menyantap hidangan tradisional ini sambil bercanda. Idul fitri memang selalu jadi saat yang paling menyenangkan.

Saat senggang silaturahmi, tiba-tiba saya di tegur oleh adik sepupu, dia bilang “kak ? boleh nggak saya pinjam buku ? saya di kasih tugas bu guru meresensi buku, nanti sehabis libur sekolah di kumpulkan”.

Saya cuma tersenyum cengengesan, tidak menyangka bakalan dipintai bantuan. Dalam hati saya salut, membuat resensi memang tugas yang sangat bagus memancing minat baca, apalagi untuk anak berumur belasan tahun. “pinjam aja, tuh ada di kamar, memang maunya buku yang seperti apa ?”, kata saya.

Si adik sepupu dengan semangat berlari ke kamar, namun wajahnya langsung masam “yaaah…bukunya tebal-tebal” sahutnya. Saya jadi tertawa ngakak, terus terang, kalau urusan beli buku saya banyak dibantu teman. Jadi itu semua bukan buku saya.

Sang teman ngasih buku tebal-tebal, boleh jujur juga, nggak semuanya udah saya baca (Dasar pemalas :-)) Saya bilang “Belajar banyak baca dong de, kakak juga lagi belajar nih”.

“Mmmm…Iya deh” katanya tersenyum kecut, sembari mengambil buku yang paling tipis. Saya makin ngakak melihat ia garuk-garuk kepala. Apa boleh buat, paling-paling itu yang ada di pikirannya, saya menebak.

Tapi sambil menghela nafas dan menghembuskan dengan keras, sampai di pintu kamar, si dede tiba-tiba mendelik dan berucap “Mmm…kakak ? kakak besok ke rumah kan ?”.

“Iya mang kenapa ? kakak kan mau pamit mudik ?”, sahut saya. “Nggak…datang aja” katanya tersenyum misterius. Membuat saya bertanya-tanya.

Besok setelah datang ke rumahnya baru penasaran hilang. Ternyata si dede merasa terpanasi dengan buku-buku saya, dia jadi pamer seluruh komik-komiknya yang tersusun rapi di almari kamar. Harus diakui, jauuuh lebih banyak daripada buku-buku saya :-?.

Melihat saya cuma senyum-senyum, si dede tambah memanasi “kakak bisa nggak ? ceritain semua buku di tempat kakak, aku bisa lho ? certain semua cerita komik yang dah ku baca” katanya.

“Masa ? segini banyak komik kamu bisa cerita semuanya”, saya menyahut. Mulailah si dede bercerita tentang komik-komiknya, saya mendengar dengan penuh perhatian.

Ia berkisah dari sejarah jepang (mangga), kisah tiga kerajaan, legend of the condor heroes dan legenda naga. Ia hafal nama Kan’u Uncho atau kuan yu, Liu Pei, Chohi Chokutaku hingga kisah cinta Kwee Ceng dengan Oey Yong Jie.

Saya senang sekali, tapi patut disayangkan. Begitu saya tanya, si dede tidak begitu tertarik dengan sejarah bangsa sendiri. Ia hafal dan tahu bagian dari sejarah jepang dan cina, tapi lupa bagaimana bangsanya merdeka.

Saya tak tahu, mungkin generasi muda yang lain juga demikian, lebih suka membaca sejarah bangsa lain karena memang lebih menarik dan merangsang untuk dibaca. Termasuk adik sepupu yang satu ini, ia justru menganggap pelajaran sejarah bangsa cukup dipelajari di sekolah saja.

“Gitu kak ceritanya, tapi buku kakak asyik juga lho, aku dah habis hampir separo”, sambungnya. “Baguslah”, kata saya, tersenyum kecil berbesar hati.

“Sekarang gantian ya, kakak yang baca komik-komik aku”, katanya tiba-tiba, ia menyodorkan sepuluh komik yang masih terlihat baru.

“Tapi de, kaka dah nggak baca komik lagi ???”, saya menyahut. “Baca aja lagi, kali aja kakak suka ? kan kalo kakak suka ? kakak jadi beli yang baru, kalo kakak beli yang baru, aku bisa minta ?”. Si dede kali ini yang ketawa cengengesan.

Saya cuma garuk-garuk kepala. Begitulah cerita silaturahmi buku dan komik Lebaran. Yang pasti, sekarang saya mau mudik sambil baca buku dan komik (lagi), doakan selamat yak .

Advertisements
Comments
  1. Hahahaha 😀 Baru ngerasa enaknya dikerjain sama keponakan ya, Pak? Hehehehe 😀 Tapi bagus juga nih nuat contoh bagaimana mengembangkan minat baca. Bisa saja kan dimulai dari buku komik yang menghibur, kemudian meningkat ke buku2 bacaan yang lain. Wah, layak dicontoh nih, Pak.

  2. Hanna says:

    Sama dong penyakitnya, MALAS MEMBACA. He he he.
    Kayanya mulai sekarang kita mesti rajin membaca nih, setuju?

  3. Yari NK says:

    Sejarah memang bisa disajikan lewat komik yang menarik. Coba sejarah2 bangsa kita sendiri dapat disajikan lewat komik2 menarik atau lewat cara2 yang menarik, pasti akan semangat dipelajari. 😀

  4. Ani says:

    Ha..ha… dikerjain ma adik sepupu ya mas ?
    Btw, Selamat berlebaran deh, mohon maaf lahir & batin ya !

  5. kurtubi says:

    Waah ketinggalan koment nih, lebarannya sudha lewat.. Saya salut dengan adik2 mu yang hoby membaca, persoalan sejarah bangsa apa yangddibaca saya kira itu urusan belakangan… membangkitkan budaya baca di bangsa kita konon sangat rendah sekali… beruntung punya saudara yang rajin membaca… semoga menjadi generasi pembaca, pemikir dan pemerhati sekali pelaku sejarah itu sendiri… 🙂

  6. Dhona says:

    Mungkin emang begitu kali ya sejarah bangsa lain lebih menarik buat dibaca daripada membaca sejarah bangsa sendiri.

  7. almascatie says:

    jadi pengen baca comic lagi nih
    :mrgreen:

  8. hanna says:

    Sobat… menghilang lagi, nih. Sibuk bangat, yach.

  9. Ayu says:

    waa, boleh jujur nggak, Pak? tulisannya makin bagus aja nih, makin ngalir. saya senang bacanya, jadi bisa menikmati. keren nih,,,:)

    Btw, talking of Indonesian History…menurut Bapak satu ini, kenapa ya untuk baca novel epik yang berbau legenda yang erat kaitannya dengan sejarah kuno Indonesia kayak Senopati Pamungkas, kita kebacakannya udah males. Tapi, nggak sedikit banget yang udah khatam novel epik romawi atau sejarah kuno Jepang? Ada yang tahu???

  10. SQ says:

    Pszzzt…Terima kasih dah mengunjungi blog saya meski lama baru di update..h3w

    @ Sawali : Iya pak sawali, saya jadi malu juga dengan keponakan saya. salah-salah dengan minat baca yang begitu kuat, ia justru lebih banyak “melahap” buku-buku sejarah nantinya.

    @ Hana : Saya nggak yakin kalo mbak Hana malas membaca ? Tulisannya ngeri gitu euyyy..

    @ Yari N.K : Pasti mas Yari, tapi justru itu, jarang ya ada komikus dari negeri kita yang mengangkat cerita sejarah bangsa ? Coba kalo ada, mungkin saya yang pertama beli

    @ Ani : Met l:ebaran juga mbak, wah ? kayaknya ucapan saya dah kelamaan nih…h3w

    @ Dhona : wah, saya nggak yakin lho mbak Dhona ? Sejarah kita juga pasti lebih menarik bila disajikan beda.

    @ Mas Kurt : Iya…Ada yang bilang bahkan menghina, katanya budaya bangsa kita cuma ngomong ? Tapi saya yakin itu semua nggak bener, buktinya di blog-blog yang saya kunjungi, termasuk blog mas kurt isinya begitu referensial, pasti mas juga termasuk golongan pembaca dari sekian banyak manusia di nusantara ini.

    @ Al-Mascatie : Nanti aja saya posting mas komiknya ? h3w

    @ Hana (lagi) : Blizzz..Nih dah muncul mbak ?

    @ Cangcorong : Apa nih maksudnya ??? Nyindir ya ?
    H3w (sembunyi….takut ditimpuk)

    Mbak ayu cangcorong, memang ya? entah kenapa rasanya sastra cina dan jepang lebih bagus dari pada sastra kita. Mungkin karena nilai-nilai kemanusiaannya lebih mengena ya.

    Saya belum baca yang Senopati Pamungkas, tapi sekarang lagi coba-coba baca Taiko. Mudah-mudahan cukup ilmu supaya nanti bisa menjawab pertanyaan itu.

  11. andry says:

    DLnTzl comment4 ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s