Menghijaukan Pendidikan, Bagaimana Caranya ?

Posted: September 1, 07 in Pendidikan

  Oleh : Syamsuwal Qomar

Jujur saya punya impian, andai pendidikan di negara kita bisa dibuat lebih “hijau”, berkesan lebih baru, lebih muda dan hidup sehingga menelurkan kesan nyaman bagi yang terlibat didalamnya, tak ada lagi keinginan unutk saling menghujat dan mencaci satu dengan yang lain.  

Sampai sekarang impian itu juga tidak hilang, walaupun pada kenyataannya dunia pendidikan kita masih morat-marit tak keruan. 

Saya menggunakan istilah hijau, karena hijau sering digunakan sebagai perlambang yang identik dengan kata “segar” (pandangan mata). Begitu pula halnya “hijau” dalam lingkup pendidikan, artinya ada proses penyegaran dan transformasi yang terjadi hingga berkesan lebih menyenangkan.  

Saya punya pandangan, hal ini hanya bisa terjadi kalau faktor yang paling berpengaruh dalam sistem tersebut berubah. Walaupun tentu saja, faktor-faktor yang lainnya juga ikut berpengaruh sebagai penyokong dan pendukung. 

Contoh, dalam sistem pendidikan terdapat unsur-unsur pembangun yang sudah kita kenal, seperti keberadaan murid, guru, metode, kurikulum, bahan/pengalaman yang akan di ajarkan, serta sarana dan prasarana, semuanya dijalankan secara sistematis sesuai peran dan fungsinya masing-masing. 

Bila anda bertanya apa faktor yang mungkin sangat berpengaruh dalam sistem pendidikan, maka jawaban saya adalah guru. Sektor guru lah yang paling wajib didahulukan untuk di perbaharui bila ingin meng”hijaukan” pendidikan. 

Pendidikan kita butuh guru-guru pembaharu –untuk memulai suatu pembaharuan, seorang guru pembaharu atau (sekumpulan) guru-guru pembaharu yang menghancurkan tradisi lama dan berani berspekulasi dengan cara pandang dan metode-metode yang baru. 

Ada alasan besar kenapa saya meletakkan hal ini sebagai faktor yang paling berpengaruh. Guru, bila diibaratkan menyetir mobil, adalah orang yang menjadi sopirnya, mobil yang ia kendarai berupa kurikulum, dan bagaimana cara ia menjalankan mobil ini disebut metode.  

Sebagus apapun mobil, bila sopirnya tak ada, tentu tak bisa digunakan. Begitu pula dengan hal lainnya, sebagus apapun mobil, bila sopirnya payah, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi. Harapan kita semua, mobilnya bagus, sopirnya pun lihai mengendalikan, baru namanya sistem bisa dijalankan dengan optimal.  

Belakangan di dunia pendidikan kita ada fenomena (entah sudah bisa disebut tradisi) pergantian kurikulum dari CBSA, KBK hingga KTSP, saya tidak begitu mengerti,  permisalannya selalu mengganti mobil baru, tapi bila yang mengendarai masih memakai cara yang lama ? tentu tak akan banyak gunanya.

Menurut saya, ini bukan masalah bentuk kurikulum –meskipun kurikulum juga perlu diperbaharui, tapi lebih kepada, bagaimana guru mengimplementasikan kurikulum tersebut dengan metode yang ada di pikirannya, membuat siswa memahami apa pengalaman mengajar yang ingin ia sampaikan.  

Maka darinya, saya menilai kalau kehebatan seorang guru itu diukur dari kemampuan ber adaptasi dengan pikiran-pikiran muridnya, bertoleransi dan berbagi, lalu kemudian mencari celah dan metode yang kreatif dalam kondisi ini, hingga akhirnya berhasil menyampaikan apa yang ingin disampaikan 

Seorang guru, tidak mesti selalu orang yang selalu pintar dan tahu segala hal, hebat dalam berbicara dan menulis, menguasai berbagai istilah-istilah ilmiah dan modern, punya banyak titel luar biasa, (itu di masa lalu) tidak akan ada gunanya bila hanya membuat ruwet dan tidak dimengerti oleh murid-murid yang ia ajar. 

Seorang guru yang baik, adalah seseorang yang tahu kapan ia harus memotivasi muridnya, tahu kapan ia harus diam membiarkan siswanya berkreasi dan tahu dimana ia harus bertindak tegas saat proses pelajarannya terganggu, seseorang yang tahu kapan ia harus maju dan kapan ia harus mundur dalam keadaan yang terjepit pula. 

Guru yang mampu menjadi inspirator, kreator, motivator sekaligus entertainer. Itulah figur yang sangat diperlukan oleh bangsa ini sekarang, daripada guru yang cuma berpatokan dan dibelenggu oleh kurikulum,  terus menerus memakai metode yang berorientasi ke masa lalu. 

Sayangnya, hal ini masih susah diwujudkan, sukar menemui guru yang begitu berkompeten, karena kita tahu, anggapan ke tidakmampuan yang hidup di negeri kita dan kerap berorientasi ke masa lalu lah yang paling menghalangi transformasi guru ke figur yang diharapkan. 

Ada dua hal yang paling berpengaruh, pertama, lingkungan yang membuat guru-guru kehilangan idealisme mengajar, keadaan yang mendukung bermalas-malasan, mematikan potensi dan menghanyutkan dalam budaya yang cenderung mengajar seadanya.  

Kalaupun ada yang begitu bersemangat, guru-guru pembaharu macam ini akan cenderung di isolasi dan dianggap ”aneh”. Anda bisa membaca tulisan Rhenald Kasali –yang juga pengarang buku Re-Code Change Your DNA, untuk mengerti tentangnya, bagaimana seorang guru yang menerima penghargaan dari Yayasan Pengembangan Kreativitas bisa di isolasi dari lingkungan tempat ia mengajar. 

Kedua, seperti yang sudah-sudah, faktor ekonomi yang membuat guru malas untuk berusaha. Karena memang, profesi guru bukanlah profesi yang bisa membuat orang kaya. Dosen saya sering bilang, kalau ingin menjadi kaya, jangan jadi guru, karena guru adalah profesi yang kebanyakannya memberi, bukan menerima. 

Menjadi guru justru adalah pekerjaan berat, harus menyiapkan diri untuk tidak berharap banyak, kurang penghargaan sudah jadi hal yang lumrah, siap disalahkan harus di tanamkan sejak dahulu, senantiasa mengerti dan bersabar sudah menjadi sifat yang wajib, sementara pengendalian emosi adalah kuncinya.    

Kedua hal inilah yang menurut saya sangat mencolok menghalangi transformasi guru dan pendidikan. Padahal bangsa kita perlu perubahan itu, kita perlu  perlu proses regenerasi, sebuah peng”hijau”an, saat-saat dimana kita harus menanam, memupuk dan menuai demi bangsa ini.  

Mulai menanam bibit-bibit pembaharuan dari sekarang, memupuknya agar senantiasa tetap hidup, hingga akhirnya mampu menghasilkan sesuatu yang berarti, karena kita dan anak cucu kita jua yang akan menuainya 

Inilah wujud pendidikan yang berorientasi ke masa depan, yang sangat kita harapkan bersama, bukan pendidikan yang senantiasa melongok dan meributkan hal yang sudah-sudah.  

Mari bersama bergandeng tangan, eratkan silaturahmi, buka logika untuk saling bertukar pikiran, lupakan ungkapan gaya lama memecahkan semua masalah, buka mata akan pembaharuan, dare to dream big, change and refresh, buat peng”hijau”an demi masa depan pendidikan bersama.   

Advertisements
Comments
  1. hanna says:

    Postingannya yang bagus. Isitilah hijau plus gambar padinya juga sangat mengena.

    Nasib guru di negeri kita ini memang masih memprihatikan.Moga cepat mendapat perhatian dari pemerintahan.Kalau bisa bagi orang tua murid yang berkemampuan lebih ikut berperan memberikan sumbangan tuk para guru.

    Hidup pendidikan kita ! Moga cepat terwujud impian kita semua.

    thanx mbak, masih sambil-sambil belajar juga koq.
    yup, perubahan memang perlu banyak dukungan, bukan hanya guru semata kan yang diharapkan? pemerintah sudah pasti, orang tua yang anak-anaknya di didik para guru? kalau mereka mau berbagi, sungguh suatu keikhlasan yang besar balasannya di sisi tuhan

  2. hanna says:

    Salah ketik say, maksudnya postingannya bagus, he he. Sorry, kecepatan.hi3.

  3. fira1972 says:

    Assalamualaikum, yup mari bersama saling bahu membahu menghijaukan dunia pendidikan indonesia. Wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s