Mandegnya Refreshment Pendidikan = Ironi Guru Muda

Oleh : Syamsuwal Qomar

Kata refreshment bisa berarti mengandung banyak makna. Istilah ini sering digunakan dalam arti menyegarkan, menyedapkan dan mencari ketenangan. Refresh bisa pula dijalankan dengan aktivitas bersantai, bermain-main, atau menghabiskan waktu bersama keluarga, bertujuan supaya merasa lebih segar, lebih sehat, dan punya semangat hidup.

Refreshment tentu saja sangat penting, kita memerlukannya untuk menjaga spirit kerja, memperbaharui pemikiran, meningkatkan konsentrasi untuk menghadapi segala hal yang akan datang, bukan hanya berlaku pada suatu individu, tapi organisasi juga perlu refreshment.

Suatu organisasi atau lembaga perlu mengganti hal-hal yang lama menjadi baru agar lebih update, memperbaharui sistem-sistem yang sudah lapuk, tak lagi terpakai, diganti dengan sistem yang lebih modern dan canggih. Semuanya perlu dilakukan agar tidak tersingkir dari persaingan dan mengantisipasi segala hal yang mungkin terjadi di masa mendatang.

Sayangnya, kebanyakan lembaga atau organisasi di dalam negeri kita kebanyakannya malas melakukan refreshment, mereka cenderung mempertahankan nilai-nilai lama yang sudah lapuk dan masih dianggap sakral mampu menangani masalah apa saja. Salah satunya ? Ya yang menimpa sistem pendidikan nasional kita.

Saya menilai kalau sistem pendidikan kita punya masalah sistem refreshment –saya menyebutnya peremajaan, yang lamban, disamping masalah-masalah lain yang banyak yang juga sudah terlalu banyak dan sering diributkan.

Hal ini bisa dilihat dari fenomenanya yang “menunggu tua” dulu baru diakui, kenapa mesti menunggu tua? Karena seorang alumnus pendidikan guru yang masih muda harus menunggu minimal 3 tahun untuk diakui sebagai pegawai negeri sipil di dunia pendidikan, sementara itu, ia hanya cukup diakui sebagai tenaga honor.

Padahal tenaga honor yang muda dan baru biasanya punya semangat juang yang tinggi, teman-teman saya yang baru lulus, mereka punya keinginan kuat berbagi ilmu dan mendidik anak-anak di sekolah yang mereka ajar. Mereka orang-orang yang termotivasi dan masih punya idealisme mengajar yang kuat.

Contoh kongkrit yang paling parah, seorang teman bahkan menceritakan pengalaman sewaktu menjadi tenaga honor di suatu MIN (Madrasah Ibtidaiyah Negeri), rupanya sejak didirikan tahun 2000, belum ada satupun guru-gurunya yang menjadi pegawai negeri sipil di sekolah tersebut, tidak juga kepala sekolahnya.

Inilah kelemahan yang mendasar yang masih nampak jelas, kurangnya refreshment (peremajaan), siklus perputaran umur-generasi yang lamban. tenaga-tenaga muda kerap tidak dihargai di dunia pendidikan, padahal merekalah yang kerap menjadi tonggak pembaharu dalam segala bidang.

Mereka bisa memimpin dunia pendidikan ke masa yang lebih modern dan update. Sayangnya hal ini tidak di optimalkan. Dan selama ini tidak menjadi perhatian pula, dunia pendidikan nasional akan menjadi primitif selamanya.

Sindrom PNS

Ternyata masalah refreshment ini tidak hanya berhenti disitu, fenomena menunggu tua rupanya punya potensi makin melebar dan menimbulkan cabang-cabang masalah baru, salah satunya ya sindrom PNS –teman-teman punya istilah, semua guru-guru honor tahu hal ini.

Sindrom PNS adalah masa penantian diangkatnya status diri menjadi pegawai negeri sipil. sindrom PNS sering membuat guru-guru honor megap-megap, makin lama mereka di acuhkan, makin hilang motivasi diri untuk mengajar. Tak ada lagi metode yang variatif, tak perlu lagi media, kurikulum tak digubris, hingga sering “menghilang” saat jam pelajaran tiba.

Artinya apa? Artinya mereka sudah malas menunggu terlalu lama, mereka sudah malas menunggu tua, mereka bosan menunggu tanpa adanya kepastian.

Maka oleh itu, untuk menanggulanginya perlu diperbaiki data base yang masih carut marut dan adakan pengangkatan secepatnya bagi mereka yang sudah lama mendedikasikan diri menjadi tenaga honorer.

Andai masalahnya semudah itu? Sindrom PNS selain membuat guru-guru muda megap-megap ternyata juga bisa membuat sifat malas menular begitu ada kepastian.

Tidak jarang ditemui sifat guru honor yang tadinya punya semangat tinggi dan idealisme kuat dalam memberi pengajaran, kenyataannya malah melemah dan cenderung lebih santai setelah diangkat menjadi bagian dari pemerintah.

Karena bekerja atau tidak, mereka akan tetap mendapatkan gaji. Semangat juang dan usia muda telah mereka kuras dan korbankan demi mencapai target ini, kenyataannya setelah berhasil, tak ada salahnya mengendurkan “sedikit” semangat.

Saya tak ingin menjadi munafik, mungkin saya akan berpikiran sama. Di saat kita punya semangat tinggi untuk berbagi ilmu bersama, bukan jaminan hidup yang dituju, tapi keinginan untuk memperbaiki pendidikan bersama, lebih dari cuma sekedar mengajar di depan kelas, tapi benar-benar memperbaharui pendidikan sepenuhnya di suatu tempat.

Tapi begitu tergabung dalam suatu sistem yang membendung kita, membatasi ruang gerak, mendoktrin hal-hal yang lama, berada dalam suatu lingkungan yang sudah tak lagi punya spirit perubahan, malah justru memaksa untuk menerapkan hal-hal yang sudah usang tanpa peduli apa yang sebenarnya diperlukan siswa.

Hanya tiga hal yang mungkin terjadi, pertama, secara radikal menolak sistem tersebut dan keluar sepenuhnya. Kedua, tetap bergabung, tapi berprinsip tidak akan terpengaruh dan mempertahankan semangat sekuat mungkin, meskipun terkadang kita dikecam karenanya. Ke tiga, ikut larut bersama budaya yang sudah mengkarat tersebut.

Ironis memang, seperti buah simalakama, tapi inilah hal yang mau tidak mau harus dihadapi guru-guru muda bangsa ini.

Tantangan yang juga hambatan bagi mereka yang punya keinginan besar, tekad dan semangat kuat, ingin membawa angin perubahan demi perbaikan pendidikan anak-anak dan cucu kita.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Mandegnya Refreshment Pendidikan = Ironi Guru Muda

Add yours

  1. Sindrom PNS

    hehehe, bener banget bang !…

    syndrom ini yang bikin mental pegawai jadi malas…

    hmm…, beda banget ma negara2 maju. for exapmle japan, justru peran guru itu sangat diutamakan…

    itulah tragisnya nasib guru, di jepang guru memang sangat diutamakan, sewaktu hiroshima-nagasaki di bom, justru nasib guru yang pertama kali ditanyakan oleh kaisar Hirohito, berapa banyak guru yang tersisa untuk membangun bangsa. di Indonesia ???…

  2. Tetap motivasikan diri, semangat ,tekad dan kegigihan.Jangan hanya menunggu , lakukan sesuatu.
    Kalau ingin perubahan kita mulai dari diri kita sendiri terlebih dahulu, setuju ?
    Sudah banyak cerita tangisan , keluh kesah , dan yang membuat negeri kita ini kian melemah.Bagaimana negeri kita ini bisa punya harga diri kalau kita sebagai warganya saja terus menerus mencela negeri sendiri.(Maaf ya, bukan tulisan ini maksud saya)

    Bersemangatlah ! Kita bukan bangsa yang cengeng. Tunjukkan bahwa kita bangsa yang punya harga diri, bangsa yang punya harapan di segala bidang.Sekali lagi kita mulai dari diri kita sendiri terlebih dahulu, Di bidang masing-masing.

    Saya tidak mengerti system pendidikan.Yang saya tau kita sudah menjadi bangsa yang bermental tempe bukan mental baja.Anak-anak jaman sekarang sudah takut susah.Pr banyak sedikit mengeluh,ulangan mengeluh,celakanya bila orang tua ikut-ikutan membela anaknya.

    Gimana negeri ini mau maju , belajar yang mestinya gampang saja di bikin susah.Sejak tk, sd, sltp,smu sampai kuliah terus menerus berkata,”Sekolah itu membosankan, susah, membelenggu , banyak teori dan bla…bla…”.

    Sejak sekolah saja sudah menanamkan diri dengan berkeluh-kesah , bagaimana mau menghadapi dunia.
    Ini yang kurang di tanamkan di jiwa anak bangsa ini , semangat belajar dan mentalitas.

    Pesan tuk temanku ini,
    Gantungakan cita-citamu setinggi langit seperti kata orang tua.
    Galilah ilmu sedalam lautan.H e he he

    Hidup guru muda !

    __________

    benar, seandainya semua warga menyadari akan hal ini Insya Allah Indonesia akan menjadi negara yang maju. Keinginan untuk berubah itulah yang sangat diperlukan dan ditiupkan ke seluruh batin penduduk bangsa, willingness untuk maju, belajar dari kesalahn dan bangkit berani menghadapi persoalan-persoalan yang ada walaupun akhirnya bisa memburukkan citra sendiri.

    sayangnya kebanyakannya lebih memilih diam dan ber status quo, padahal tuntutan untuk berubah sudah di depan mata. Change, refresh, and keep fighting to hold the spirit. Memang mbak kalimat ini punya konsekwensi yang berat, kalau boleh jujur juga, saya masih punya banyak budaya jelek yang susah di ubah. Tapi Insya Allah, akan terus berusaha berproses untuk berubah.

    memperbaiki pendidikan pasti sudah menjadi impian semua orang, tak ada salahnya kan punya mimpi ini? meskipun nantinya hanya sedikit yang bisa direalisasikan…Dare to dream big, to make fantasy comes true.

  3. Kelemahan mendasar dalam proses rekrutmen jabatan di negeri kita ini adalah mementingkan pola senioritas. Pendatang baru –meskipun kreatif, berprestasi, dan berkompetensi cemerlang– tetap bakalan tersisih kalau nggak punya koneksi : mrgreen: Sertifikasi guru sajalah sebagai contoh konkret. Kalau lihat calon2 peserta, rata-rata mereka yang dah punya “jam terbang” kerja 20 tahun ke atas. Akibatnya, guru2 muda yang biasanya idealis, punya elan dan etos kerja jempolan, mereka nggak akan disentuh dan diapa-apain. Tak heran jika dunia pendidikan kita makin amburadul, karena telah terjadi “pembunuhan karakter” terhadap tenaga2 muda. Namun, para guru muda nggak usah cemas dan khawatir. Masih banyak terbuka kesempatan untuk mengaktualisasikan –pinjam istilah Maslow– diri melalui berbagai dimensi kegiatan kependidikan yang bermanfaat untuk kepentingan generasi muda. Ini juga terkait erat dengan masalah kultural. Negeri kita ini masih amat kuat menerapkan kultur paternalistis yang “mengutamakan” dan “memuliakan” yang tua-tua. Akibatnya, ya, gitu deh. Banyak persoalan yang membelit dunia pendidikan, tapi tak ada yang bisa diseleseaikan akibat bejibunnnya tenaga-tenaga tua yang dah kehabisan napas dan loyo. 😀

    ___________________________

    pola senioritas memang masih sangat kental, contoh kongkrit lain, di jurusan tempat saya kuliah juga lebih banyak di temui dosen-dosen oldies di banding dosen-dosen “youngsters”. Tak apa jika gaya pengajarannya beradaptasi dengan mahasiswa yang ada, susahnya, kebanyakannya ditemui pola pengajaran yang status qou dan begitu primitif, cuma beberapa dosen bahkan yang mengerti tentang internet. Susahnya, dosen2 lain yang lebih “update”, muda dan fresh, punya kemampuan “cyber” yang tinggi dan kompetensi memahami mahasiswa lebih justru terganjal oleh mereka, ya karena itu, pola “memuliakan” yang lebih tua.

    guru-guru muda yang idealis di daerah juga, selain menjadi tenaga honor mereka lebih melirik bimbel-bimbel sekarang. Selain honor yang lebih besar, mereka dapat mempelajari ilmu dan pengalaman untuk membangun bimbel sendiri yang lebih fresh dan update nantinya sesuai selera sendiri. Bisa jadi ini cara mereka merubah pendidikan, walau tak seberapa, yang penting ada usahanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: