Dunia Tanpa Sekolah

Posted: August 11, 07 in Personal Library

gambar-1.jpg “Siapapun bisa jadi penulis. Menulis tidak perlu bakat. Atau lebih tepatnya, bakat dapat diciptakan sesuai situasi dan kondisi. Kita hanya perlu berlatih dan berproses terus menerus dengan keberanian dan kerja keras untuk sukses”.

 Petikan paragrap di atas diambil dari bab Momentum Perubahan milik seorang anak kecil bernama Muhammad Izza Ahsin Sidqi. Halaman ke 51 dari buku Dunia Tanpa Sekolah yang juga mengupas habis tentang perjuangannya menjadi penulis, hingga meninggalkan dunia sekolah. 

Buku yang ditelurkan oleh Izza –yang baru berusia 15 tahun, ini tergolong sangat luar biasa. Membentuk gambaran dirinya sebagai remaja radikal, aneh dan langka, punya pola pikir cemerlang, pengetahuan umum yang luas, besarnya kepercayaan diri, tekad dan mental baja, serta kemampuan menulis yang menakjubkan. 

Izza punya kehebatan merangkai kata dalam menuangkan pikiran dan mengaitkannya dengan pengetahuan umum yang ia ketahui, sungguh mengerikan, anak sekecil ini sudah memahami teori relativitas Einstein.  

Mengetahui sejarah sastrawan-sastrawan terkenal seperti Mark Twain, Rabindranath Tagore dan Bernard Shaw. Mengupas arti pendidikan yang sebenarnya melalui buku Sekolah Para Juara, Quantum Teaching and Learning, Delapan Kecerdasan dan Humanisasi Pendidikan Paulo Freire. 

Tidak cukup sampai disitu, Izza juga mampu memakai nama-nama Michael Faraday (tokoh revolusi kelistrikan), James watt (revolusi industri), John Dalton (ahli kimia), F.J Saunders dan Abe Lincoln sebagai referensi tulisannya.  

Pemaparan cerita yang dipakai dalam buku ini dibuat dengan bentuk biografi. Dimulai dari kisah-kisah senang dan sedih sewaktu mencicipi bangku sekolah. Izza sudah merasa tidak betah sejak pertama kali merasakan pendidikan yang konvensional, karena bertolak belakang dengan prinsipnya, belajar sepanjang hayat tanpa dibatasi kurikulum sekolah. 

Ia yang yang memiliki kreativitas berlebih dan meledak-ledak akhirnya menyalurkan ke tempat lain selain sekolah yang membosankan. Di waktu SMP, ia membuat kliping yang tebalnya 200 halaman tentang Olimpiade Yunani 2004 hingga akhirnya menemukan pelabuhan yang cocok dan membuatnya terkenal. Menjadi penulis. 

Pikirannya bercabang-cabang seperti pohon dan semakin kompleks. Hasratnya hanya bisa terpenuhi bila diwujudkan dengan menulis novel sampai beberapa seri tebal. Ia akhirnya memutuskan mendalami dunia tulis menulis, percaya pada kekuatan fokus dan melupakan sekolah serta pendidikan formal. 

Kisah selanjutnya menggambarkan bagaimana Izza berjuang di bawah paksaan orang tuanya, pihak sekolah dan keluarga untuk meneruskan pendidikan formal. Perasaan terpaksa yang begitu menyiksa, idealisme yang sempat tergoda dan emosi yang meletup-letup. Sekolah konvensional benar-benar menjadi musuh baginya. 

Akhirnya Izza berhasil menelurkan novel yang melebihi 500 halaman, dengan huruf yang kecil pula. Bagaimana dengan sekolah ? Mampukah ia keluar sepenuhnya dari kerangka pendidikan formal yang membelenggu ? Ikuti saja bukunya sampai akhir, yang pasti, banyak hal yang bisa diambil sebagai pengetahuan, terutama bagi para penulis. 

Dalam buku ini, Izza menyimpulkan kalau seorang penulis pemula diharuskan minimal menyerap gaya penulisan dari setengah lusin pengarang kelas atas –dikenal dengan istilah benchmarking yang sama sekali tidak menjiplak gaya penulisan siapapun. Mampukah kita seperti dirinya ?

Advertisements
Comments
  1. Ayu says:

    Yap, buku ini juga salah satu buku favorit saya. membaca buku ini membuat ketagihan ingin tahu apa yang terjadi sampai akhir. seperti ketika saya membaca novel. cukup aneh juga mengingat jenis buku Izza termasuk biografi.
    Tapi itulah hebatnya Izza. Di saat anak seumurannya mengalami kesulitan membuat sebuah karangan bahkan merangkai paragraf. Di buku ini sangat terlihat bahwa Izza menceritakan pengalaman hidupnya dengan sangat mengalir dan susunan kata-kata yang dapat “menuntut” pembacanya untuk terus larut dalam ceritanya. Emang brilian anak satu ini.
    Satu lagi, saya amat kagum dengan keberanian dia mengambil keputusan. di usia yang masih remaja dimana emosi bisa sangat labil, Izza bisa bersikap sebegitu matang dan penuh perhitungan. Bukan cuma sekedar emosi yang membwanya pada keputusan berhenti sekolah. tapi tentu saja oleh ambisinya yang luar biasa untuk bisa menjadi seorang penulis sukses.
    Top abis bukunya.

    Izza memang hebat, dia punya sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang, bahkan yang dewasa sekalipun. Bagi kita yang masih belajar menulis, wajib belajar dengan anak berusia 15 tahun ini

    • bambang says:

      wah bukan main…. aku punya pengalaman yang hampir sama, cuma bedanya aku tidak mempunyai kekuatan untuk melawannya, aku hanya dapat masuk dan mengikuti arus yang bernama sekolah itu…..
      Izza mempunyai kebernian yang hebat di usianya…

  2. hanna says:

    Dalam buku ini yang paling saya salut sama Izza ialah keberaniannya untuk putus sekolah dan mengejar impiannya dengan semangat dan perjuangan.

    Tentang menulis kita bisa belajar dari siapa saja.Dan kalau bisa belajar dari anak kecil.Anak kecil biasanya lebih bebas mengekspresikan perasaan dan pikirannya.Anak kecil itu kreatif, mereka lebih sering melukiskan perasaan mereka lewat gambar-gambar atau corat-coret.Apa yang mereka pikirkan akan mereka ungkapkan tanpa ragu-ragu.Nah, yang terakhir ini akan sangat baik untuk kita yang sedang belajar nulis, setuju ?

    Buku dna nya akan saya baca.Agak lama ya, coz lagi baca buku yang lain dulu, he he.

    Thanx atas komentarnya, luar biasa, Izza punya kekuatan fokus dan fighting spirit yang tinggi = semangat dan perjuangan juga, saya cukup setuju kalau untuk belajar menuangkan pikiran lewat tulisan, kita perlu belajar dari siapapun selama itu membawa perkembangan dan perkembangan bagi kita. O.kee…I’m wait 4 the next comment O.k ?

  3. yunita nurhidayah says:

    dimana saya bisa dapatkan bukunya? saya rasa ini penting utk kita umumnya & diri saya khususnya sbg mhs fak pendidikan agar tdk terjebak pd paradigma lama ttg pendidikan & pembelajaran. tuk izza, salut. gali terus potensi & sukses slalu!

  4. SQ says:

    Buku Izza banyak terdapat di TB Gramedia Mbak ? betul banget, sebagai pendidik justru buku-buku seperti ini yang sangat kita perlukan. Thanx and nice spirit mbak

  5. Juwita says:

    Saya udah baca novel izza..
    Bagus banget, sangat inspiratif. Di umur izza yg segitu mudanya udah bisa nulis buku yg kerennnn…bgt,
    Sdangkan sy, di umur 14 ni belom dpt apa pun…,
    Eh tolong kalo punya alamat email izza, kasih tau saya, kirim email ke saya (jue_hyuga@yahoo.com), mungkin sy ma izza bisa diskusi

  6. Viezä says:

    Izza adalah inspirator untuk aku menjadi manusia lebih berani dan militan melawan arus dunia pendidikan yang semaki carut marut dengan birokrasi ala kolomial

  7. agoes says:

    Ketika pertama kali saya mendengar ada buku tentang DUNIA TANPA SEKOLAH.Saya merasa terharu,buku M Izza telah mewakili kami yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal..
    Dan sekarang orang2 yang “menganggap” diri mereka ellit, tidak harus memandang remeh terhadap orang yang tdk memiliki pendidikan..

  8. agoes farhandy says:

    terima kasih Izza….. kamu telah mewakili suara kami, orang2 yang tdk memiliki ijazah..

  9. AN says:

    Sy salut banget untuk k` Izza..
    Sy jga penulis, tpi tdk sehebat dia..
    Hebat banget yah.. bisa mutusin untuk putus sekolah..!
    Tapi aku yakin, pasti bisa sperti dia..
    Dri dlu sy jg mmikirkn hal ini..
    Tpi, mau gimana lgi..
    Orang tuaku sdh mnuntutQ brhasil dgn cara mereka yaitu brsekeloh dan sy tahu persis tdk mesti sekolah hingga se2orang itu dpt dikatakan brhasil hidup..
    Kahli Gibran (idolaku) sj tdak msti brsekolah hingga ia mnghasilkn karya2 yg bgitu diminati dan walaupun ia tdk mngecap tingkat sekolah yg tinggi.. ia sdh dapt dikatakn brhasil.. why? krn dia sama dgn Izza..

    Dari lubuk hatiku yg pling dalam..
    Aku jujur, ingin skali mngikuti jejak k’ Izza..
    Apalah arti sekolah, masih bnyak kok pengangguran diluar sana.. Di dalam sekolah jg bnyak ke2rasan, lgipula setahuku kehidupan se2org itu u/mmplajari ssuatu dgn cara mereka sndiri, dgn pola pikir mereka sndiri..

    Tpi skli lgi.. Aku larut dlm kesedihan..
    Aku terjebak…
    Aku jg tdk sprti K’ Izza yg bgitu prcaya diri dan bertekad kuat.. Serta bgitu jenius.. 😥

    Sbagai imbalan…
    Aku akan sllu brdoa agar k` Izza mndpat hal trbaik..
    Dan InsyaAllah, suatu waktu kami dpt brtemu dan brbagi pengalaman >>maunya :P…

    Aku jg tidak mau kalah..
    Akan aku buktikan klo aku bsa sperti k’Izza..
    Akan kubuktikn klo aku jg mmpu mndiskripsikn ssuatu yg bnar tanpa prlu sekolah…

    Terima Kasih K’Izza..
    YOU ARE MY INSPIRATION… 🙂

  10. teteh says:

    buku ini salah satu buku favorit saya…sebenarnya saya setuju dengan dunia seperti itu,karna memang saya juga merasakan hal yang sama ketika sekolah memberikan peraturan2x yang heboh…ditambah kadang sikap guru yang semakin membuat stress….q senang banget ada yang ngungkapkan masalah ini dalam buku seperti yan izza tulis…lagian gak semua orang sukses lewat sekolah hehehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s