Mensolusi Minimnya English Communicative Competence (ECC) di Sekolah

Oleh Syamsuwal Qomar  

Mesti diakui salah satu kelemahan pengajaran bahasa Inggris di sekolah sampai sekarang adalah kurangnya perhatian terhadap communicative competence. Penggunaan bahasa Inggris untuk berkomunikasi terbilang jarang sehingga siswa-siswa yang bersekolah menjadi pasif dalam penguasaan bahasa Inggris. 

 Vakumnya penggunaan bahasa Inggris atau English Spoken kebanyakannya berujung pada ketidak mampuan siswa memproduksi kata dan kalimat, padahal bisa jadi siswa yang bersangkutan mampu berbahasa Inggris dengan bagus. Tidak jarang pula ditemui siswa yang menguasai teori akan tetapi jelek dalam praktek.  

Sebenarnya masalah kurangnya berkomunikasi dalam bahasa inggris ini sudah menjadi lagu lama, cakupan penyebabnya sendiri begitu banyak. Salah satunya adalah kurikulum yang terlalu menitikberatkan pada structure atau tata bahasa. Akibat takut membuat kesalahan dalam tata bahasa, siswa malas berbicara dalam bahasa Inggris. 

Masalah kurikulum ini sudah coba diatasi dengan melahirkan KTSP (Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan) yang menyerahkan pengembangan materi pada sekolah. Pertanyaannya sekarang, Bagaimana kiat guru dan berkreativitas menanamkan budaya berbicara bahasa Inggris pada murid-muridnya.  

Hal ini tidak gampang. Untuk mengajarkan English spoken, guru berhadapan dengan bermacam-macam tipe siswa. Ada yang pemalu, mudah gugup, minder, takut salah dan macam-macam. Semuanya adalah penghalang untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.  

Berbagai faktor ini juga yang akhirnya membuat guru malas berkutat di area speaking. Mengajarkan siswa untuk berbicara membutuhkan banyak waktu dan energi, terkadang mesti membenarkan pronunciation mereka, waktu yang dicanangkan untuk tema yang lain bisa habis cuma untuk mengajarkan hal ini.  

Beberapa usaha akhirnya ditelurkan untuk membantu memecahkan masalah, salah satunya dengan mensosialisasikan penggunaan bahasa Inggris dalam pengajaran seluruh mata pelajaran lewat kelas akselerasi dan bilingual di sekolah-sekolah berstandar nasional dan internasional  Di sini penggunaan bahasa Inggris sebagai media berkomunikasi keluar dari konteks pelajarannya. Dalam suatu kelas, bahasa Inggris digunakan sebagai daily language atau bahasa sehari-hari dalam mengajarkan pelajaran umum seperti matematika, IPA dan IPS. Layaknya sistem yang diajarkan di pesantren. 

Di banua kita sendiri, seperti Banjarmasin, Banjarbaru dan Martapura sudah banyak berdiri sekolah-sekolah model atau percontohan yang memakai sistem ini. Karena masih beradaptasi, tentu saja tidak bisa langsung efektif, masih banyak ditemui guru-guru yang tidak mampu menggunakan bahasa Inggris dalam mengajar. 

Walaupun begitu manfaat dari kelas-kelas bilingual ini sudah mulai terasa Alat ukurnya bisa dilihat dari keaktifan sekolah-sekolah tersebut mengikuti lomba debat dan cerdas cermat ber bahasa Inggris serta antusiasme murid-muridnya dalam berpidato bahasa Inggris.  

Dilihat dari perannya yang begitu besar, jika kelas bilingual dimaksimalkan dalam jangka waktu lima atau enam tahun kedepan. Tidak mustahil bukan hanya satu kelas, tapi satu sekolah akan mampu menggunakan bahasa Inggris sebagai daily language sebab pengaruh dari kelas ini. 

Kelas bilingual berpeluang besar melucuti kesan malu bagi siswa yang berada di kelas tersebut karena perasaan berada dalam komunitas yang sama. Bagusnya lagi, siswa bisa mengoreksi masalah mereka satu sama lain, mulai dari hal masalah non teknis seperti gugup, takut salah dan pelupa, hingga segi teknis macam spelling, pronunciation, ataupun stress. 

Tentu saja hal ini meringankan beban guru sebagai pengajar, di satu sisi, guru juga mampu mengasah kemampuan berbahasanya karena berbicara dan terfasilitasi lewat murid-muridnya. Kelas bilingual jelas menghemat waktu dan menawarkan simbiosis yang saling menguntungkan antara guru-murid dari segi penggunaan bahasa Inggris. 

Sayangnya kelas bilingual masih sangat terbatas. Sebagaimana kita ketahui, alas an yang paling mendasar adalah ketiadaannya dana bagi sekolah-sekolah biasa atau sekolah pinggiran untuk memiliki kelas bilingual. Fasilitas seperti laboratorium yang canggih dan terkomputerisasi susah dijangkau. 

Padahal alasan ini tidak sepenuhnya benar, jika sekolah-sekolah kreatif, mereka bisa menciptakan kelas bilingual tersendiri. Tidak meski diakui oleh umum, tapi mulai dulu dari hal kecil. Seperti pembentukan ECC (English Conversation Club) di waktu sore hari atau dibentuknya organisasi sekolah yang khusus menangani tentang bahasa Inggris. 

Di Amerika Serikat atau negara-negara eropa lainnya sering kita temui organisasi sekolah siswa seperti Math’s Club (klub matematika), Chemistry Club (klub kimia) dan History Club (Klub Sejarah). Kenapa sekolah-sekolah di daerah tidak coba untuk mencontohnya ?

Di daerah kita cuma mengenal organisasi pramuka, PMR dan OSIS.  Tidak perlu mahal dan mewah. Untuk mentutor berbagai organisasi studi tersebut bisa menarik mahasiswa paruh waktu yang kompeten sesuai bidang studinya. Lebih bagus bila berpenampilan menarik, biasanya siswa-siswi sekolah tertarik lebih dengan hal ini terlebih dahulu. 

Guru juga tidak ada salahnya menggunakan bahasa Inggris sedikit demi sedikit. Membuka pelajaran sesudah salam misalnya, menyapa siswa dengan ucapan “good morning” dan di akhir pengajaran sesudah salam mengucapkan basa-basi macam “nice to meet you today”.   

Lebih bagus lagi bila dilakukan oleh guru mata pelajaran umum, seperti matematika dan bahasa Indonesia. Guru bahasa Indonesia bahkan benar-benar mengajar bilingual. Itu semua adalah contoh hal kecil dari sesuatu pembiasaan , bisa saja nantinya menjadi sesuatu besar. 

Ternyata mensolusi penggunaan bahasa Inggris begitu mudah, asalkan kita punya niat tulus dan kreativitas yang kemudian di hasilkan melalui karya nyata. Membenahi pendidikan yang bobrok, itu sudah tugas kita semua selaku pendidik. Membangun daerah agar lebih maju, itu juga tugas kita selaku masyarakat Indonesia. 

Mana tahu ada benarnya.

Advertisements

One thought on “Mensolusi Minimnya English Communicative Competence (ECC) di Sekolah

Add yours

  1. benar sekali pak
    saya juga kesulitan kalau sudah masuk area speaking
    apalagi kosakata mahasiswa saya kurang sekali
    hampir sama dengan kosakata anak SD
    Kadang2 jadi jengkel juga ngajarnya
    abis nggak ngerti2 dan motivasinya juga kurang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: