Pendidikan yang Terpinggirkan

Oleh Syamsuwal Qomar

MENJELANG ujian nasional (UN), tidak ayal memacu dan memicu kegugupan orang tua murid. Naiknya standar nilai kelulusan semakin menambah kecemasan hingga kepesimisan dan kecemasan menjadi akrab.
 
Pelaksanan UN beberapa tahun belakangan  nampaknya seperti hantu yang menakutkan. Seperti siklus tahunan, segala usaha dilakukan sebagai antisipasi. Memasukkan anak ke bimbingan belajar, les privat dan semacamnya. Semuanya demi kesuksesan buah hati mendapatkan ijazah untuk menapak ke keperguruan tinggi (PT), atau sebagai ‘kartu’ memasuki dunia kerja.
 
Di era modernisasi sekarang, pendidikan formal seolah sudah menjadi ‘tuhan’ penyelamat bagi jaminan hidup di masa depan. Selain dipandang sebagai penanda sukses, keberhasilan dalam pendidikan juga memberi prestise. Apalagi, bila didapat dari sekolah yang kualitas “jaminan mutu”.
 
Ironisnya, paradigma tersebut mengaburkan hakikat pendidikan itu sendiri. Pendidikan yang sejatinya bertujuan memanusiakan manusia bergeser menjadi suatu ambisi atau beban tersendiri yang harus dipenuhi peserta didik.
 
Padahal bukan demikian fungsi pendidikan. Tujuan pendidikan menyiapkan ‘masa depan’ untuk mencapai kedewasaan. Kedewasaan yang dimaksud ialah apabila peserta didik memiliki atau menunjukkan ciri-ciri adanya sifat kestabilan dan kemantapan, adanya tanggung jawab dan mandiri dalam perilaku.
 
Pendidikan formal boleh jadi berbicara banyak di zaman sekarang, akan tetapi dalam memenuhi kriteria kedewasaan, seperti dibuat “mati rasa”. Memang tidak mutlak adanya, kedewasaan bisa didapat dan disadari dimana saja, tidak terkecuali melalui pendidikan akademik, akan tetapi prestasi akademik tidak selalu menjadi ukuran kecerdasan dalam memahami arti hidup.
 
Contoh kongkritnya mudah ditemui. Seseorang boleh bertitel S-1, S2, atau S-3, tetapi belum menjamin adanya kedewasaan dalam dirinya. Ada yang alumnus dalam dan luar negeri terkemuka, lebih lihai menilep dan mengakali duit rakyat.
 
Berseliwerannya gelar-gelar Doktor sampai predikat profesor palsu, pergeseran fungsi sekolah yang dulunya merupakan tempat transformasi pelajaran cenderung berubah menjadi pameran life style. Pengaruh sinetron TV pengumbar mimpi seolah melengkapi kondisi nonedukatif tersebut. Sungguh sangat jauh dari kedewasaan.
 
Dalam menyikapi hal ini, perlu disadari arti pendidikan sesungguhnya dan kita perlu mengambil peran serta di dalamnya. Tanamkan kepercayaan dalam diri setiap individu, bahwa pendidikan formal bukanlah segalanya. Diperlukan pendidikan ‘lain’ untuk meng-equipt individu dalam proses pendewasaan.     

Pendidikan jiwa (psikologi) tentu memegang peranan vital. Bukan tentang kurikulum, silabus, atau berbagai kompetensi yang perlu dikuasai siswa, akan tetapi tentang sesuatu yang terletak dalam jiwa individu dan hanya bisa didapatkan apabila mau memikirkan segala sesuatunya secara mendalam. Ini berkenaan dengan intelektualisme tingkat tinggi.
 
Pendidikan jiwa bahkan bisa dikatakan di atas segala-galanya. Sokrates pernah mengemukakan dalam ceudaimonia. Memiliki daimon jiwa yang baik itu melebihi kebahagian tubuh atau lahiriah, Manusia harus membuat jiwanya sebaik mungkin dengan menggunakan kebajikan dan keutamaan (arate) sebagai alatnya. Pendapat Socrates diteruskan  Aristoteles yang menambahkan kalau puncak kebahagiaan manusia terletak pada pikiran murni dan jiwanya. “Berpikir Ilmu” inilah yang ia coba kemukakan demi mencapai kemurnian dan kesucian jiwa.
 
Dalam kajian lainnya, Sukidi dalam bukunya Kecerdasan Spiritual menulis bahwa kecerdasan jiwa atau spiritual itu lebih penting daripada kecerdasan intelektual dan emosional. Beberapa alasan yang ia kemukakan ialah segi perenial dari kecerdasan jiwa.
 
Mengutip dari Danah Zohar dan Ian Marshall dalam SQ, spiritual intelligence, the ultimate intelligence dirumuskan, kecerdasan sejati ialah kecerdasan untuk menyelesaikan masalah makna dan nilai, kecerdasan untuk memposisikan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menaksir bahwa suatu tindakan atau jalan hidup tertentu lebih bermakna ketimbang yang lain.
 
SQ adalah fondasi yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan, SQ merupakan kecerdasan tertinggi. Kecerdasan spiritual mampu menjawab pertanyaan yang tidak bisa diungkap oleh kecerdasan intelektual. Sains modern hanya dapat melihat dan meneliti struktur kecerdasan, sebatas verifikasi secara ilmiah. IQ dan EQ buta tentang hakikat sejati manusia, makna hidup bagi manusia modern, arti kehidupan di dunia fana ini, bagaimana menjalani kehidupan dengan benar, misteri kematian dan sebagainya.
 
Tidak cukup sampai disitu, pendidikan spiritual dapat membimbing individu sehat secara pikiran intelektual dan emosional sekaligus. Memberantas penyakit-penyakit spiritual yang banyak diidap manusia modern seprti krisis spiritual (spiritual crisis), penyakit jiwa (soul pain), penyakit eksistensial (existensial illness), patologi spiritual (spritual pathology), alienasi spiritual (spiritual alienation) dan penyakit spiritual (spiritual illness).
   
Tidak berlebihan kiranya jika pendidikan jiwa lebih dipehatikan.  Akan tetapi sangat disayangkan, justru terpinggirkan dan teracuhkan akibat dari tuntutan zaman. Padahal, kegunaannya lebih berdaya guna dibanding IQ dan EQ.
   
Bisa dipahami kalau kesuksesan dalam pendidikan formal bisa jadi sangat diperlukan, tetapi tidak selalu menjadi kebahagiaan sejati bagi setiap individu. Mereka yang gagal dan tersingkir dalam persaingan bukan berarti tidak memiliki kecerdasan. Masih banyak hal di dunia yang tidak kita ketahui, banyak rahasia di dalamnya. Jangan sampai kita menjadi orang yang senantiasa berpandangan sempit dan men-stereoyping sesuatu berdasarkan apa yang bisa kita lihat.
   
Akhirnya demi untuk menyadarkan kita semua, mari bangun dari berbagai macam anggapan yang bisa membuat kita tidak menggeneralisasi segala sesuatu, mari membuka pikiran, pandangan yang pintar itu ‘pintar’ dan orang yang bodoh itu ‘bodoh’, bisa jadi bukan persis seperti yang dipersepsikan. 
 
Rengkuh dan satukan kembali pendidikan yang mulai terpinggirkan dan terpisah dalam pendidikan formal. Lalu jalani hidup dengan lebih arif dan bijak demi untuk menggapai kebahagiaan jiwa – yang selama ini tidak ditemukan pada IQ dan EQ – melalui pendidikan spiritual.
 
Mana tahu ada benarnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: