Menulis Sangat Mudah?

Posted: August 5, 07 in Menulis

Oleh Syamsuwal Qomar

PERTANYAAN balikan tersebut muncul begitu saja di pikiran setelah membaca buku Menulis Sangat Mudah karya Ersis Warmansyah Abbas. Padahal, di kalangan mahasiswa, justru keluhan susahnya menulis jika mengerjakan tugas perkuliahan yang sering muncul. Pada sisi lain, begitu mudahnya bagi orang-orang tertentu  menulis buku.  
 

Tergoda oleh ‘kekuatan’ kata-kata Ersis, saya menulis, membuka wacana, dan bereksperimen dengan kata-kata. Ersis tidak sepenuhnya benar. Ternyata yang benar itu, menulis tidak semudah yang dibayangkan. Terlalu banyak penghalang yang menghancurkan semangat yang tadinya berapi-api untuk menulis.
 
Berbagai alasan bermunculan begitu kata-kata tertoreh; cekaknya ide, miskinnya pengalaman, dan gaya bahasa yang norak. Ketakutan akan mutu tulisan datang pula bergabung menghantui.  Menulis begitu ribet, dan … merepotkan. Tidak praktis, undirectly dan menyusahkan.Perlu Latihan
Menulis sangat mudah. Kata-kata tersebut tak mau lepas dari pikiran. Semua orang punya potensi untuk menjadi penulis. Kemampuan menulis adalah investasi masa depan dan membawa keuntungan.
 
Alhamdulillah, otak terpancing, gagas tiba-tiba mencuat, argumen berbaris memotivasi. Teorinya sederhana, jika ingin menulis sesuatu, tulis, dan tulis. Metode yang begitu polos tanpa embel-embel merumitkan. Padahal intinya ingin mendobrak paradigma menulis merumitkan dengan menanamkan pemahaman semua orang pasti bisa menulis.
 
Menulis sebenarnya tidak menyusahkan. Setelah dicermati pembentuk tembok penghalang yang membentuk pemikiran susah menulis tidak lain tidak bukan, diri sendiri. Kita sendiri yang membentuk penghalang tersebut.
 
Menulis memang mempunyai kesulitan tersendiri. Tapi, bukankah semua pekerjaan pasti ada susahnya. Kalau tidak mau susah, tidak usah mengerjakan apa-apa. Kalau tidak mau berusaha dan malas melawan diri sendiri, lupakan saja impian  menjadi penulis.
 
Hal yang pertama ditegaskan ialah kerja keras. Bila ingin mengasah kemampuan menulis, diperlukan latihan. Sebagaimana bila ingin menjadi pemain basket handal. Perlu sit up, push up, sprint, shooting dan lari keliling lapangan. Memang tidak perlu serepot itu, akan tetapi modal pertama jelas kemauan dan kerja keras. Jangan mimpi bisa menjadi penulis dengan cara instan.
 
Memulai latihan menulis bisa dari hal-hal yang ringan. Tulis apa yang ada di pikiran dan tuangkan secara sederhana dengan bahasa yang sederhana.
 
Acuhkan saja masalah hasil. Yang penting menulis. Jangan pedulikan hal-hal lain yang mengganggu, apa pun hasilnya dan bagaimanapun bentuknya, yang penting menulis. Cari cara dan metode sendiri untuk membuat diri nyaman menulis. Setiap orang lebih tahu mengasah potensinya, maka setiap orang pasti mampu mengatasi masalahnya sendiri.
 
Apabila mau bekerja keras dan terus belajar, Insya Allah, halangan akan mangkrak dan kenyamanan menulis mampu diraih.
 
Terkadang beberapa masalah memang ada dan muncul kepermukaan. Secara sistematisnya, hal yang pertama kali timbul di pikiran saat ingin menulis atau disuruh membuat karangan ialah adanya beban untuk mencari ide yang bagus. Ide kemudian dikembangkan untuk menjadi karangan melalui kata-kata yang bagus pula. Berusaha menulis sesempurna mungkin.
 
Mana mungkin bisa menghasilkan sesuatu yang bagus bila sudah dibebani terlebih dahulu. Sedangkan tulisan bukanlah sesuatu yang bisa dihasilkan secara instant. Walhasil ide bagus tidak didapat, menuliskannya juga takut kalau-kalau dicap buruk. Akibat takut tidak berkualitas, minat menulis jadi terkubur dalam-dalam.
 
Mestinya belajar dulu untuk nyaman menulis. Tak usah peduli apa pun ide yang muncul, langsung tangkap dan tulis. Tak usah peduli tata bahasa atau hal lainnya yang membelenggu proses penulisan. Tak perlu peduli dengan bagus tidaknya. Toh yang namanya bagus atau tidak bagus itu sangat relatif.
 
Untuk apa takut dengan sesuatu yang tidak pasti wujudnya. Bila sudah merasakan nyamannya menulis, ide bagus pasti datang sendiri, kata-kata mengalir dengan sendirinya, menulis pun sudah berubah menjadi candu. Kalau punya cukup waktu, pasti menuliskan banyak  artikel seharinya.
 
Tulis dan tulis. Inilah kata kuncinya. Sangat sederhana memang, terkecuali ingin membuatnya sulit. Menulis itu tentu perlu kepercayaan diri.
 
Di banding berbicara di forum atau jadi radio announcer, menulis perlu waktu lebih banyak dan adaptasi yang lebih keras. Bila berbicara sesudahnya tentu akan hilang ditelan waktu, terkecuali diingat kembali. Bila menulis tidak akan hilang selamanya kecuali berkasnya hancur.
 
Miskin harga diri tak bermartabat. Miskin moral bernasib tragis. Miskin percaya diri tak mampu menulis. Apa yang mau ditulis bila tidak percaya diri. Untuk menulis minder, takut dicap jelek menulis. Terkadang tertawa sendiri karena pernah mengalami.
 
Allhamdulillah sekarang bisa dimudahkan  menulis, meskipun terkadang takut karya tidak bermutu. Akan tetapi, peduli amat pendapat orang. Setiap orang punya posisi masing-masing. Kini  sedang latihan, ya menulis saja.
 
Makin terbiasa menulis ternyata membangun kepercayaan diri. Menulis menjadi nyaman. Tidak usah sehebat sastrawan (besar). Yang penting ada hasil karyanya. Sejelek apapun, tetap karya sendiri.   

Inilah masukan dari orang yang baru belajar nyaman menulis. Bisa pula menghilangkan momok dan beban. Ingat, menulis tidak perlu bagus tapi menulis itu perlu nyaman. Bila sudah nyaman, bagus pasti mengiring. Toh tulisan yang bagus itu pasti tulisan yang nyaman di nikmati dan dibaca kan?
 
Bila sudah merasa nyaman, bisa dikirimkan ke media cetak. Kalau beruntung dimuat. Koran pun ikut menyediakan reward, setidaknya lima puluh ribu bisa dikantongi. Kurang nyaman apa lagi menulis, hasrat tersalurkan, dapat duit lagi.
 
Jangan takut berkarya nyata. Bila bersungguh-sungguh pasti terjadi. Biasakan kerja keras dan bunuh budaya instant. Mantapkan niat dan mental.
 
Akhirnya dengan segala kerendahan hati penulis menuliskan: Selamat mencoba  dan berkarya lewat menulis. Semoga sukses dan mensukseskan.
 
Mana tahu ada benarnya.

Advertisements
Comments
  1. hanna says:

    Tulisannya mantap euy.Makan aja mesti dikunyah dulu.Mau tau rasa yang sebenarnya dari makanan yang kita makan ya harus dikunyah lebih lama sambil dinikmati.Makanan yang dikunyah lebih lama akan halus dan akan sangat baik tuk pencernaan. gito deh kira-kira.
    Salam nulis

  2. Suci says:

    kiat menulis menjadi mudah karena kebiasaan memang menurut saya banyak benarnya….tapi punya trik paling jitu juga ga supaya nulis bikin nagih?

  3. SQ says:

    hebat juga kalau makan disamakan dengan menulis, bisa-bisa menulis lima kali sehari ???

  4. Sip lah … up date trus …

  5. SQ says:

    makasih banyak pak atas pemberian web nya, ni juga sambil belajar, masih belum canggih kayak yang lainnya…yang penting tulisannya ada kan ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s