Fakultas Tercinta Harapan Bangsa

Posted: August 5, 07 in FKIP Unlam

Oleh Syamsuwal Qomar

FKIP Unlam adalah fakultas ‘terbesar’ di lingkungan Universitas Lambung Mangkurat. Sudah bukan hal baru lagi, fakultas ini merupakan fakultas paling diminati. Ribuan calon mahasiswa antri dan berjuang untuk mendapatkan kursi belajar di fakultas tercinta ini. 
 
Sebagai fakultas yang didesain untuk mencetak calon guru, membludaknya peminat cukup mengherankan. Padahal semua orang tahu, guru adalah profesi yang “mengerikan” secara finansial. Tetapi sudahlah. Ada pertanyaan mengelitik: Apa benar semua mahasiswa FKIP Unlam ingin menjadi guru? Jawabannya bisa jadi sangat mengejutkan.
 
Dari riset kecil-kecilan, ada hal mengejutkan yang saya dapatkan. Beberapa teman yang saya tanya menjawab, berkeinginan bekerja di perusahaan atau membangun bisnis sendiri. Lalu kenapa kuliah di FKIP?
 
Seiring perkembangan zaman, dunia kerja tentunya semakin ketat dan kompetitif. Inilah alasan yang membuat FKIP kesohor. Ironisnya juga, jadi pedang bermata dua.
 
Mereka yang kuliah di FKIP itu kebanyakannya hanya ingin mengambil titel S-1 nya saja, sebagai tetenger untuk modal mencari profesi kerja yang lebih layak atau bila gagal dan tersingkir, sesial-sialnya, bisa jadi guru.
 
Kalau demikian adanya, sungguh kasihan, apa bedanya FKIP dengan fakultas buangan? Niat mencetak guru masa depan untuk mendidik anak bangsa. Tetapi, hanya dijadikan jembatan bagi sebagian (kecil?) mahasiswanya. Sesuatu yang kurang baik bagi FKIP. Imej keguruan dan ilmu pendidikan nampaknya luruh disapu salah makna.
 
Kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Guru sekarang nasibnya tidak lebih baik dari pasukan kuning. Kurangnya penghargaan terhadap profesi guru membuat momok tersendiri. 
 
Padahal, memintarkan dan memahami siswa tidak gampang. Apalagi gaji yang dibayarkan cuma tinggi-tinggi sedikit dibanding tukang parkir dan pemulung. Sungguh ironis, dan kasihan nasib guru.
 
Satu contohnya adalah seorang teman yang bekerja di perusahaan asing. Dulunya sama-sama kuliah di FKIP sekarang dia bekerja di foreign company mendapatkan begaji Rp5 juta per bulan. Sungguh tidak sebanding dengan gaji seorang guru.
 
Gaji guru kita sekitar Rp1 sampai Rp2 juta. Hingga, sekalipun kuliah di FKIP, lebih baik bekerja untuk bangsa lain daripada memintarkan bangsa sendiri. Jaminan hidup dan penghargaan didapat lebih memuaskan. Apa yang bisa diperbuat FKIP menyikapi kondisi tersebut? 
 
Jangan cuma diam dan pasrah terlarut dalam kenyataan yang ada. Harus dicari cara supaya FKIP kembali ke identitas aslinya. Caranya? Bisa dirembuk bersama untuk mencarikan jalan keluar supaya FKIP kembali punya taring menghadapi masa depan.
 
Membenahi sesuatu tentu perlu tahapan, maka secara sistematis FKIP perlu pemulihan. Ada tiga hal yang ingin disampaikan selaku mahasiswa FKIP. Mudah-mudahan ada manfaatnya.
 
Pertama, keterbukaan, kebersamaan, dan saling take and give dalam PBM perlu ditingkatkan. Komunikasi sehat antara mahasiswa dan pengajar dalam membantu mahasiswa mendewasakan pemikiran dan memandang hidup perlu dilakukan lebih serius. Bagaimanapun kondisinya, mahasiswa pastilah ingin dianggap sebagai makhluk dewasa disatu sisi dan disisi lain perlu pengarahan dosen. Bukan saja dalam hal-hal menyangkut perkuliahan tetapi juga untuk memandang ‘dunia luas’.
 
Bukan berarti dosen memperlakukan mahasiswa seperti anak kecil. Akan tetapi bercokolnya faktor kekuasaan membuat mahasiswa menciut seperti tikus dalam perangkap.
 
Tak bisa dipungkiri, sistem hamba-abdi masih muncul disana-sini. Ada dosen membentak mahasiswa karena kesalah pahaman belaka. Dosen mengisolasi siswa, ada pula yang mengancam tidak meluluskan bila tidak sesuai kehendak hati.
 
Pertentangan dan perbedaan pendapat terkadang diharamkan. Padahal, dari perbedaan tersebut akan menjadi wacana untuk memperbaiki sistem belajar-mengajar. Mahasiswa dapat mengambil hikmah dalam mencari “kebenaran”. Itulah proses belajar-mengajar.
 
Kalau keterbukaan tidak dibuka lempang, mahasiswa akan diam, habya mencari aman. Mereka takut mengutarakan pendapat. Jangankan mengasah kemampuan membela kebenaran, mengutarakan pendapat saja takut. Akibatnya, kuliah malas-malasan kuliah karena atmosfir kampus kurang sehat.
 
Kedua, pembenahan mutu pembelajaran. Belum diketahui apa indikator pengukur kesuksesan FKIP mendidik mahasiswanya. Kalau jabatan birokrasi dijadikan ukuran, bolehlah sedikit jual nama. Rosehan N.B alumnus Fakultas Hukum Unlam, Alwi Sahlan mantan dosen FKIP. Tapi, tentu bukan itu ukurannya hingga dikatakan “qualified”.
 
Apa kurikulum sudah sesuai dengan lapangan kerja yang akan digeluti mahasiswa? Lebih lanjut, misalnya, kenapa bahasa Inggris menjadi momok, matematika masih angker, dan bahasa Indonesia belum mengembirakan? Untuk sekadar mengambil contoh dari UN yang menakutkan siswa.
 
Banyak memang faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengajaran. Tapi, apakah materi dan penyajiannya sudah menjadikan mahasiswa paham dan ketika menjadi guru mampu menjadikan siswa cerdas. Jangan-jangan, justru gurulah yang menjadi pangkal musababnya.
 
Ketiga, mahasiswa perlu santa memerlukan pengetahuan dan keterampilan yang nantinya menjadi sesuatu yang ready to use ketika menjadi guru.  Pengajaran tepat sasaran akan sangat berguna bagi mahasiswa dan kalau perlu ditambah dengan mata kuliah yang mampu meng”equipt” mereka menyongsong masa depannya.
 
Contoh di program studi bahasa Inggris adanya pendidikan aplikasi komputer, Microsoft Word dan Excel. Materi dan kegunaannya sangat bagus mengingat mampu memberi warna dan diperlukan guru, demi menunjang keterampilan.
 
Mata kuliah atau materi sejenis hendaknya dikembangkan dan diperbanyak. Artinya para alumnus perlu menguasai TI disamping jadi pengajar. Pemanfaatan TI bisa lebih memikat dalam penyajian materi pelajaran dan akan sangat berguna dalam kehidupan nyata keseharian.
 
Jadi, peduli calon guru bagi LPTK, FKIP Unlam, diantaranya memberi bekal ready to use bagi mahasiswanya. Tentu saja, selama ini hal tersebut telah dilakukan, tinggal lebih dikembangkan.
 
Mana tahu ada benarnya.

Advertisements
Comments
  1. Ha ha tapi gimana caranya … bekal ready to use itu Maz

  2. 5H4LEH says:

    Makasih udah mampir, tapi saya bingung g mana cara ninggalin pesan di blog anda. jadi terpaksa di sini.

  3. […] Fakultas Tercinta Harapan Bangsa […]

  4. Semua civitas akademika dan alumnus FKIP Unlam tentunya berharap agar lembaga pendidikan pencetak guru di Kalsel ini terus maju. Bernenah diri mengikuti perkembangan era globalisasi dan era informasi.

    Oleh karena itu izinkan saya memperkenalkan hasil penelitian dan pengembangan berupa sistem informasi akademik FKIP Unlam yang online di http://simfkip.net63.net walaupun ini bukan versi resmi dari FKIP tapi hanya sekedar versi demo atau gambaran saja.

    Mohon dukungan, komentar, saran dan kritik serta apresiasinya supaya sistem informasi ini bisa direalisasikan oleh FKIP Unlam agar data-data akademik selalu update, online dan dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Semua ini agar terjadi transparansi, akuntabilitas dan efisiensi akademik FKIP Unlam semakin baik.

    Terima Kasih
    Wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s