Filed under: Personal Library

Karya fenomenal dari Dan brown yang menjadi pembicaraan hangat nan kontroversial, buku ini mengguncang dunia dengan pemaparan fakta dan bukti-bukti nyata yang seolah mampu dipertanggung jawabkan.
Inti dari The Da Vinci Code adalah menyingkap rahasia kelamnya sejarah dari suatu agama besar di muka bumi.
Gaya penulisan –sebagaimana yang banyak diceritakan, memang terkesan melompat-lompat. Plot yang meliuk-liuk, peran yang bergantian saling mengisi satu sama lain, dan juga sangat provokatif.
Penggambaran setting yang dimulai dari museum Louvre, berbagai tempat di perancis, hingga diakhiri di gereja Westminster –puncak dari konflik di Inggris, tergolong sangat luar biasa. Brown pastinya telah melakukan banyak riset, mulai dari tempat, sejarah agama, sejarah para tokoh besar (Biarawan Sion) dan berbagai macam simbol.
Semuanya diaduk menjadi satu hingga terlahirlah novel ini, yang kemudian menjadikannya begitu unik dengan berbagai referensi tersebut. Meskipun tema yang diusung lebih membuat bergidik, menyingkap legenda Holly Grail yang di gambarkan sebagai Maria Magdalena, kekasih dari yesus Kristus dalam agama kristen.
Kisah dibuka dengan pengenalan tokoh bernama Robert Langdon, seorang dosen sejarah yang juga mendalami tentang simbol2 kuno dari Harvard. Langdon yang saat itu berada di perancis, tiba-tiba dikejutkan oleh kabar kematian kurator terkenal, Jacques Sauniere yang kebetulan memiliki hubungan kerja dengannya.
Setelah dipanggil ke tempat kejadian sebagai saksi, Langdon merasa heran dengan posisi badan Sauniere, yang membentuk pose the Vitruvian Man, salah satu karya Leonardo Da Vinci. Statusnya tiba-tiba berubah dengan cepat menjadi tersangka, untung saja pertolongan cepat datang dari seorang perempuan bernama Sophie Neveu.
Neveu, anggota biro investigasi perancis yang berkenaan dengan simbol-simbol kuno, selain sebagai simbolog, belakangan juga diketahui sebagai cucu dari Jacques Sauniere. Ia menolong Langdon meloloskan diri untuk membersihkan nama, sekaligus mengungkap latar belakang kematian kakeknya. Kolaborasi keduanya membawa pembaca menuju petualangan yang begitu mengejutkan.
Penemuan kode dibelakang lukisan Mona Lisa, Criptex yang ditemukan di bank Swiss, juga diceritakan tentang uskup yang frustasi karena perkumpulannya yang disudutkan oleh Vatikan dan pembunuh yang begitu setia dengan sang uskup.
Gereget cerita yang paling menakjubkan adalah saat Langdon dan Neveu bertemu Sir Leigh Teabing, seorang bangsawan Inggris yang tinggal di perancis, juga merupakan sejarawan yang khusus meneliti tentang Holly Grail. Pernyataan dan pemaparan Teabing sangat menggemparkan, dan bisa dipastikan dari dirinya lah inti kontroversial dari novel ini berasal.
Dialog yang digunakan Teabing begitu provokatif dengan sodoran berbagai bukti lukisan dan tulisan yang memaparkan kalau sebenarnya Holly grail bukanlah cawan, seperti yang terlihat dalam lukisan The Last Supper, tapi sosok Maria Magdalena yang disamarkan seperti laki-laki di samping Yesus Kristus.
Betul atau tidaknya, patut dipercaya atau harus di sangkal ? Semua orang pasti punya pendapatnya masing-masing, namun yang pasti. Jelas penggambaran detailnya akan lebih asyik setelah dinikmati sendiri.
1 Comment so far
Leave a comment
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Aku dah baca juga bukunya, tapi kok menurutku endingnya kurang nggreget ya?
Comment by Ani August 23, 07 @ 4:57